Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

EroSlide, Alat Pintar Pantau Erosi dan Longsor Secara Real - Time


Ancaman erosi dan longsor di kawasan lahan miring dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk melakukan antisipasi. Untuk membantu mendeteksi perubahan kondisi lahan sebelum berkembang menjadi bencana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan EroSlide, sistem monitoring dan peringatan dini yang mampu memantau erosi, longsor, dan deposisi secara terintegrasi dan real-time.

Teknologi yang merupakan singkatan dari erosion, sliding, dan deposition ini dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem peringatan dini bahaya kegeologian dan lingkungan, khususnya pada wilayah dengan karakteristik lahan miring.

Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nendaryono Madiutomo, menjelaskan EroSlide dirancang untuk menghasilkan sejumlah parameter secara bersamaan. 

Data tersebut antara lain curah hujan, tingkat erosi, potensi longsor, air limpasan (runoff), koefisien limpasan, infiltrasi, hingga endapan (deposition) dalam satuan waktu. 

“EroSlide kita sebut terintegrasi karena dapat memberikan beberapa data, dalam satuan waktu secara bersamaan,” ujar Nendaryono saat diwawancarai  dalam acara Expo “ORNM BRIN TALKS” di Gedung Graha Widya Bhakti, KST BJ Habibie Serpong, Rabu (19/8).

Nendaryono menjelaskan, secara fisik EroSlide memiliki dimensi 1 x 1 x 1 meter. Sistem ini dilengkapi sejumlah sensor dan perangkat pendukung, seperti panel surya, data logger, charger controller, baterai kering, perangkat 4G, dan pipa penyangga. 

Menariknya, kemampuan EroSlide kini telah dikembangkan lebih jauh. Pada tahap sebelumnya, sistem hanya menggunakan empat sensor, yakni sensor curah hujan, berat, debit, dan kemiringan. Kini ditambahkan sensor pH tanah, kelembapan tanah, dan suhu. 

Penambahan tersebut memungkinkan data yang dikumpulkan menjadi lebih lengkap untuk mendukung analisis tingkat erosi, potensi longsor, dan kondisi deposisi di suatu wilayah.

Komponen utamanya, kata Nendaryono, meliputi rainfall simulator box, flow water pipe, rainfall cover, stainless steel plate, water collector, screen box, screen, sensor curah hujan tipping bucket, loadcell untuk mengukur berat material endapan, flowmeter untuk mengukur debit aliran, serta inclinometer dan accelerometer untuk mengukur kemiringan sekaligus mengetahui arah gerakan tanah atau aliran air.

Data Bisa Dipantau dari Jarak Jauh

Salah satu keunggulan EroSlide, menurut Nendaryono, adalah kemampuannya mengirimkan data secara otomatis. Artinya, alat dapat ditempatkan di wilayah yang diperkirakan memiliki potensi erosi, longsor, atau deposisi, sementara data hasil pengukuran dapat dipantau dari lokasi lain.

Dirinya menjelaskan, Interval pengambilan data juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari harian, per jam, per menit, hingga hitungan detik. Hasilnya dapat ditampilkan dalam bentuk tabulasi maupun grafik secara aktual dan real-time.

Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar untuk menentukan klasifikasi kondisi wilayah, misalnya kategori curah hujan, tingkat erosi, hingga penyusunan peta potensi erosi, longsor, dan deposisi. 

Kemampuan ini menjadi penting karena pemantauan tidak harus dilakukan dengan menempatkan petugas secara terus-menerus di lokasi yang berpotensi berbahaya.

Ia tidak ingin EroSlide berhenti sebagai teknologi hasil riset. Pengembangannya diarahkan agar dapat dimanfaatkan industri, pemerintah, dan masyarakat sebagai bagian dari early warning system. 

Nendaryono berharap EroSlide dapat membantu mendeteksi potensi erosi, longsor, deposisi, serta bahaya lingkungan lainnya sebelum berkembang menjadi bencana. Untuk memperluas penerapannya, BRIN telah menjalin kerja sama melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Universitas Samudra (UNSAM). 

Salah satu rencana implementasinya adalah pemasangan EroSlide di wilayah Subulussalam, Aceh, yang direncanakan sekitar Oktober-November 2026.

 “Alat ini bagian dari early warning system yang dapat membantu Pemda untuk mendeteksi longsor sebelum terjadi,” kata Nendaryono.

BRIN juga menyiapkan pengembangan sistem agar informasi teknis lebih mudah dipahami masyarakat dan pemerintah daerah. Salah satunya melalui sirene dan indikator warna hijau, kuning, serta merah yang merepresentasikan tingkat potensi bahaya. 

Dengan pengembangan tersebut, informasi dari sensor tidak hanya berhenti sebagai data teknis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi peringatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat di lapangan. 

“Kami berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat,” pungkas Nendaryono.

Pengembangan EroSlide menunjukkan bagaimana riset teknologi kegeologian dapat diarahkan menjadi solusi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. 

Dengan kombinasi sensor, transmisi data 4G, pemantauan jarak jauh, analisis kondisi lahan, dan sistem peringatan dini, teknologi ini diproyeksikan menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di wilayah rawan.(**)

Posting Komentar

0 Komentar