Kalau ada pria yang matanya mendadak melotot melihat lekuk tubuh wanita berbaju seksi dengan dada terbuka, Dg Katti adalah rajanya.
Berawal dari tebar pesona di dunia maya, jiwanya langsung membara begitu melihat foto Janda Suri yang berkilau tanpa pori-pori.
Tapi dasar apes, niat hati ingin menikmati kencan romantis bersama janda idaman, kelakuannya malah berakhir konyol gara-gara bedak tebal si janda luntur kena air hujan, memperlihatkan pemandangan aneh, wajahnya putih kinclong, tapi lehernya hitam legam!
Di pelataran Warung Coto Pak kumis, Dg Katti yang tadinya cuma pria paruh baya bernapas bau rokok kretek murah dan beraroma minyak angin cap lang, merasa dadanya mendadak dipenuhi gelora asmara.
Bagaimana tidak, pesan genitnya dibalas mesra oleh Janda Suri. Dalam kepala Dg Katti yang sedang mabuk kepayang oleh ilusi medsos, wanita ini adalah sosok bidadari drama Korea yang jatuh dari langit khusus untuk memanjakan dahaga syahwatnya.
Dengan setelan kemeja batik mengkilap yang agak kekecilan dan dompet kempes yang dipaksakan tebal, Dg Katti duduk berhadapan dengan si janda. Liur Dg Katti hampir menetes ke atas meja melihat penampilan Janda Suri.
“Aduh… Asli ini, Suri? Mulus betul, mirip sekali artis drama Korea yang sering lewat di TikTok-ku,” bisik Dg Katti sambil memajukan dadanya, sok gagah padahal nafasnya megap-megap menahan kehangatan.
“Ah, Dg Katti bisa saja… Ini asli kok. Cuma pakai perawatan rutin rahasia,” jawab Janda Suri manja sambil mengibaskan rambutnya, memperlihatkan tengkuk dan belahan dadanya yang memancing gairah.
Janda Suri tampil begitu menggoda! Jakun Dg Katti sampai naik-turun bagai pompa air rusak melihat wajahnya yang mulus berseri bagai porselen toilet baru, putih bersih tanpa cacat sedikit pun!
Tapi takdir tampaknya sedang berniat melawak. Langit siang yang tadinya cerah mendadak gelap gulita dan BREEESSS! Hujan angin bertiup dahsyat menghantam area warung terbuka. Cipratan air dari atap seng yang bocor tanpa ampun menyembur tepat ke paras molek Janda Suri.
Bedak tebal dan racikan tepung beras yang menempel di muka Janda Suri mendadak luntur dan meleleh bagai mentega kena wajan panas.
Garis-garis cairan putih bercampur keringat dan air hujan mengalir deras membasahi dagu, merembes ke leher, sampai menetes ke belahan dadanya!
Dg Katti yang lagi asyik minum es teh manis mendadak tersedak hebat! Uhuk-uhuk! BYUUURR! Es teh bercampur makanan yang lagi dikunyahnya langsung tersembur keluar dari hidung dan mulut, mendarat pas di atas meja!
Begitu lapisan dempul itu terkikis habis, muncul pemandangan ajaib yang bikin mual sampai perut mulas, wajah si janda yang tadinya kinclong ala artis drakor, mendadak belang-belang bagai kerupuk cumi basah. Sementara leher sampai belakang telinganya tetap berwarna hitam legam bagai pantat wajan belum dicuci!
Kejadian konyol ini melahirkan penampakan yang sangat nyata, hitam di leher, putih di wajah! Kontrasnya begitu tajam, persis seperti belang pada badan sapi peras!
“Astagfirullah… Sari! Muka mu kenapa retak dan luntur begitu?! Beda sekali warna mukamu sama lehermu! Itu leher atau kerak kuali?!” teriak Dg Katti sambil menunjuk-nunjuk dengan muka pucat pasi, jijik setengah mati.
“A-apa kamu bilang?! Jangan menghina ya, Dg Katti! Ini cuma efek racikan skincare mahal yang reaksi sama air hujan!” jawab Janda Suri panik setengah mati sambil mengusap mukanya yang makin belepotan. Tapi sayang, dari bibirnya terlanjur keluar lelehan bedak bercampur lendir yang bikin Dg Katti rasanya mau muntah di tempat.
“Skincare racikan apanya?! Ini muka putih berseri bagai keramik baru, tapi lehermu hitam bagai wajan gosong! Penipuan publik ini! Bisa kena pasal malpraktik kecantikan ki’!” seru Dg Katti yang syok berat. Seluruh bayangan liar tentang kehangatan asmara langsung punah seketika, berganti rasa geli dan syok yang luar biasa.
“Heh pria bau minyak angin! Mana uang traktir Coto-ku?! Jangan coba-coba kabur!” jerit Janda Suri sambil melempar mangkok kosong.
“Beli dempul sana di toko bangunan! Ogah saya traktir penipuan ghaib begini!” balas Dg Katti sambil pasang jurus langkah seribu.
Niat hati ingin memboyong janda cantik bergaya pangeran, Dg Katti justru lari terbirit-birit menembus hujan deras sambil mengutuki nasibnya bertemu dengan janda glowing berwajah putih, leher hitam.
Memang benar kata pepatah tua, setinggi-tingginya burung terbang, akhirnya hinggap di pelimbahan juga, sepintar-pintarnya wanita menutupi leher hitam dengan dempul putih di wajah, akhirnya bakal telanjang juga begitu diterjang air hujan!
Kelakuan pria yang bertindak cuma dituntun libido dan halusinasi medsos itu ibarat berlayar pakai perahu bocor di tengah samudra, awalnya megah bergaya menantang ombak, tapi begitu diterjang kenyataan, kapalnya tenggelam duluan dan penumpangnya hanyut diseret arus sampai tersangkut di tiang jembatan...
0 Komentar