Palu – Setelah diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang berpusat di lepas pantai wilayah Sulawesi tengah dan sekitarnya, fenomena alam tidak biasa terus terjadi. Kamis 18 Juni 2026.
Tidak hanya air laut yang tiba-tiba surut jauh dari garis pantai, warga pesisir juga melaporkan melihat sejumlah buaya keluar dari habitatnya dan bergerak naik ke daratan.
Kejadian ini menambah daftar tanda alam yang sering dikaitkan dengan peringatan dini bencana, termasuk potensi tsunami.
Gempa terjadi pada hari selasa 16 Juni 2026, Pukul 11.27, Wita dengan kedalaman dangkal sekitar 15 km.
Beberapa menit setelah guncangan terasa mereda, warga di sepanjang pantai Kabupaten Parigi Moutong dan Tojo Una-Una dikejutkan oleh air laut yang mendadak surut hingga puluhan meter, meninggalkan area yang biasanya terendam air.
Tidak lama kemudian, muncul laporan dari warga dan petugas bahwa sejumlah buaya air tawar dan laut terlihat bergerak menuju daratan, mendekati permukiman dan jalur jalan utama.
Beberapa ekor sempat terlihat di pinggir sungai dan saluran irigasi yang biasanya jarang dilalui hewan tersebut.
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pakar lingkungan, kedua fenomena ini memiliki kaitan erat dengan perubahan kondisi alam akibat gempa:
• Surutnya air laut: Terjadi karena pergeseran dasar laut menciptakan rongga sementara, sehingga air mengalir mengisi ruang tersebut. Ini adalah tanda alami sebelum gelombang tsunami bergerak kembali ke daratan.
• Perilaku buaya: Hewan ini memiliki indra yang sangat peka terhadap getaran tanah, perubahan tekanan air, dan gelombang suara frekuensi rendah yang tidak terdeteksi manusia.
Merasa terganggu atau terancam oleh perubahan ekosistem, mereka secara naluriah berpindah mencari tempat yang lebih aman dan stabil.
“Perilaku hewan seperti buaya, ular, dan burung sering kali menjadi peringatan dini alami. Jika mereka meninggalkan habitatnya secara tiba-tiba, itu pertanda ada gangguan besar di lingkungannya,” jelas Kepala Bidang Mitigasi Bencana BMKG Sulawesi Tengah.
Menyikapi dua kejadian ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengeluarkan imbauan tegas:
1. Segera hindari pantai: Jangan mendekati kawasan yang airnya surut, hindari mengumpulkan biota laut yang tertinggal.
2. Pindah ke tempat tinggi: Jika masih merasakan guncangan susulan atau melihat tanda-tanda alam, segera menuju lokasi aman minimal 5 meter di atas permukaan laut.
3. Waspada buaya: Jangan mendekati, mengganggu, atau mencoba menangkap hewan yang terlihat. Laporkan ke petugas jika ditemukan di dekat pemukiman.
4. Pantau info resmi: Ikuti perkembangan dari BMKG, BPBD, dan media terpercaya, hindari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Hingga sore hari, BMKG telah mencabut peringatan dini tsunami karena tidak terdeteksi gelombang besar yang bergerak ke daratan. Namun, guncangan susulan masih berpeluang terjadi.
Tim gabungan BPBD, TNI/Polri, dan petugas konservasi terus memantau pergerakan buaya dan mengamankan jalur evakuasi agar tetap aman bagi warga.
Pemerintah daerah mengingatkan: tanda alam ini menjadi pengingat agar masyarakat selalu siap siaga. Kewaspadaan dan respons cepat adalah kunci utama menghadapi risiko bencana di wilayah pesisir.
Redaksi
0 Komentar