Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Sungai Finke atau Larapinta Sungai Tertua Di Dunia Berada Di Benua Australia.


           Sungai Finke atau Larapinta

Di pedalaman Australia, mengalir meski tak selalu tampak  sebuah sungai yang usianya melampaui zaman dinosaurus.

Sungai Finke, atau Larapinta dalam bahasa masyarakat Arrernte, telah terbentuk sejak 300 hingga 400 juta tahun lalu, menjadikannya sungai tertua yang masih bertahan di dunia dan saksi bisu perubahan Bumi selama ratusan juta tahun.

Namun, bagaimana para ilmuwan bisa mengetahui hal tersebut?

Sekilas, sungai tampak setua perbukitan di sekitarnya. Padahal, seperti bentang alam lain, sungai juga memiliki siklus hidup. Banyak sungai tumbuh, mengukir lekuk-lekuk alirannya di lanskap, lalu pada akhirnya mengering. Meski demikian, sebagian sungai mampu bertahan jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Pertanyaannya, sungai mana yang paling tua dan masih ada hingga saat ini?

Jawabannya adalah sungai yang usianya melampaui zaman dinosaurus. Sungai Finke di Australia atau Larapinta dalam bahasa masyarakat Adat Arrernte diperkirakan berusia antara 300 hingga 400 juta tahun.

Jaringan sungai dan aliran air ini membentang lebih dari 640 kilometer melintasi Northern Territory dan South Australia. Kondisi kering di bagian tengah benua Australia membuat Sungai Finke hanya mengalir secara musiman. Sepanjang sebagian besar tahun, sungai ini lebih menyerupai rangkaian kubangan air yang terpisah-pisah.

Meski demikian, kombinasi catatan geologi, pola pelapukan, serta pengukuran radionuklida pada sedimen dan batuan di sekitarnya memungkinkan para ilmuwan menelusuri usia sistem sungai ini hingga periode Devonian (419–359 juta tahun lalu) atau Karbon (359–299 juta tahun lalu).

Salah satu bukti terkuat tentang usia purba Sungai Finke adalah adanya anomali geologi yang dikenal sebagai cross-axial drainage, kata Victor Baker, ahli geomorfologi dari University of Arizona. Alih-alih mengalir sejajar dengan struktur batuan keras seperti kuarsit, Sungai Finke justru memotong langsung formasi mineral yang sangat resisten saat melintasi Pegunungan MacDonnell di Australia tengah.

Secara alami, air yang mengalir akan selalu memilih jalur yang paling mudah. Karena itu, terasa tidak masuk akal jika sebuah sungai justru melawan batuan keras, bukan mengalir di sepanjang sisinya. Keberadaan dan asal-usul aliran lintas sumbu ini menjadi petunjuk penting untuk memahami jalur historis Sungai Finke.

“Ada indikasi bahwa sistem aliran ini sudah ada sebelum pegunungan tersebut terbentuk,” ujar Baker kepada Live Science. “Fenomena ini disebut antecedence yang pada dasarnya, sungai sudah ada lebih dulu, lalu ketika kerak bumi terangkat dan membentuk pegunungan, sungai tersebut terus mengikis ke bawah.”

Pegunungan MacDonnell atau Tjoritja dalam bahasa Arrernte terbentuk sebagai bagian dari peristiwa tektonik besar yang dikenal sebagai Alice Springs Orogeny, yang terjadi sekitar 300 hingga 400 juta tahun lalu. Hal ini berarti Sungai Finke setidaknya setua pegunungan tersebut.


Sungai Finke atau Larapinta biasanya hanya berupa rangkaian kubangan air yang terpisah-pisah. 
Bukti tambahan datang dari proses erosi dan pelapukan yang menghasilkan profil kimia tertentu pada batuan. Informasi ini menunjukkan bagaimana dan di mana permukaan bumi berinteraksi dengan atmosfer serta aliran air dari waktu ke waktu.

Dengan memanfaatkan tanda radioaktif dari isotop tertentu—unsur kimia dengan jumlah neutron berbeda dalam inti atomnya—para ilmuwan juga dapat memperkirakan usia batuan. Karena isotop radioaktif meluruh dengan laju tetap, usia batu dapat dihitung dengan menelusuri kembali perbandingan relatif antar isotop. Seluruh data ini, jika digabungkan, membentuk peta untuk merekonstruksi sejarah dan evolusi Sungai Finke.

Namun, sungai pada dasarnya bersifat dinamis. Ada yang terus membesar dari tahun ke tahun, sementara yang lain mengering sepenuhnya. Lalu, mengapa sistem Sungai Finke mampu bertahan selama itu?

 “Sungai bisa menghilang jika tertimbun oleh lonjakan sedimen yang sangat besar, misalnya akibat letusan gunung berapi, atau jika perubahan topografi begitu drastis sehingga aliran air beralih ke jalur baru, seperti saat gletser maju dan mundur,” ujar Ellen Wohl, ahli geologi dari Colorado State University, dalam surel kepada Live Science.

Selain itu, menurut Wohl, sungai juga bisa berhenti mengalir akibat perubahan iklim dan penggunaan air oleh manusia. “Keberlangsungan sungai dalam jangka panjang didukung oleh stabilitas tektonik dan ketiadaan glasiasi selama kala Pleistosen,” periode antara 2,6 juta hingga sekitar 11.700 tahun lalu.

Dalam kasus Sungai Finke, Australia merupakan bentang alam yang sangat stabil dalam waktu yang amat panjang. Terletak di tengah Lempeng Australia, benua ini hampir tidak mengalami aktivitas tektonik besar selama ratusan juta tahun terakhir, jelas Baker. Akibatnya, sistem Sungai Finke dapat berkembang dan meluas hampir tanpa gangguan sepanjang sebagian besar sejarahnya.

Soal masa depan, sulit memastikan berapa lama lagi Sungai Finke akan bertahan.

“Sungai yang telah bertahan lama kemungkinan besar akan terus bertahan,” kata Wohl. Namun, ia mengingatkan bahwa banyak sungai di wilayah kering—termasuk Finke—mengalami perubahan besar akibat penggunaan air oleh manusia.

“Tekanan ini kemungkinan akan meningkat seiring naiknya konsumsi air global dan pemanasan global yang membuat banyak wilayah kering menjadi semakin kering,” tambahnya.

Jika suatu hari Sungai Finke benar-benar mengering, kandidat sungai tertua berikutnya adalah New River, yang saat ini diperkirakan berusia sekitar 300 juta tahun. Sungai tersebut mengalir melintasi negara bagian Virginia, West Virginia, dan North Carolina di Amerika Serikat.

Nationalgeographic.co.id

Posting Komentar

0 Komentar