Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Pemuda yang Menolak menutup mata Saat Eksekusi Mati di Hadapan Regu Tembak


             Robert Wolter Monginsidi

Usianya baru menginjak 24 tahun ketika regu tembak The Dutch East Indies Civil Administration (NICA) merenggut nyawanya. Hari itu, 75 tahun silam, 5 September 1949, peluru penjajah mengakhiri hidup seorang pemuda yang memilih berdiri tegak bersama bangsanya: Robert Wolter Monginsidi.

Hukuman mati itu dijatuhkan setelah sebuah persidangan kolonial pada 26 Maret 1949. Alasannya sederhana sekaligus kejam, ia dinilai terlalu sering menyusahkan Belanda. Bagi penjajah, satu-satunya jalan untuk membungkam semangat perlawanan itu adalah membunuhnya. Namun, yang tak mereka pahami, peluru tidak pernah mampu mematikan cita-cita kemerdekaan.

Api kemarahan Monginsidi telah berkobar sejak Belanda kembali menginjakkan kaki di bumi Indonesia. Ia menolak hidup sebagai bangsa terjajah, hidup dalam kehinaan, diperlakukan sebagai warga kelas tiga di tanahnya sendiri. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar kata, melainkan harga diri yang harus dipertahankan, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Perlawanan pun dipilih. Monginsidi sadar betul bahwa jalan yang ditempuhnya berujung pada kematian. Namun, niat Belanda untuk kembali menguasai Indonesia justru memantik keberanian dari berbagai penjuru. Bangsa ini menolak kembali dijajah. Monginsidi menjadi salah satu wajah perlawanan itu, wajah kemarahan sekaligus harapan.

Lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925, Monginsidi sehari-hari adalah seorang guru Bahasa Jepang. Namun, ketika tanah airnya terancam, kapur dan papan tulis ia tinggalkan. Armada perang NICA yang datang berlapis-lapis tidak pernah menciutkan nyalinya. Ia hijrah ke Makassar, membawa tekad bulat untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di Makassar, Monginsidi bergabung dengan Laskar Lipan Bajeng, sebuah kelompok pejuang muda yang digerakkan oleh semangat kemerdekaan. Di sanalah ia berkenalan dengan banyak pejuang, termasuk Maulwi Saelan. Cita-cita mereka satu: memastikan Indonesia tetap merdeka. Pada 17 Juli 1946, Laskar Lipan Bajeng bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), memperkuat barisan perlawanan rakyat.

Sejak saat itu, nama Monginsidi menjadi momok bagi Belanda dalam perang gerilya. Dengan persenjataan yang terbatas, ia berkali-kali berhasil menyulitkan pasukan penjajah. Kepiawaiannya menyusun strategi, kecerdikannya mengumpulkan informasi, serta keberaniannya di medan laga membuat pasukannya kerap unggul dalam baku tembak. Ia membuktikan bahwa keyakinan dan kecintaan pada tanah air mampu menandingi keunggulan senjata.

Laskar Lipan Bajeng sendiri bermarkas di Polongbangkeng, Takalar. Mayoritas anggotanya adalah para pemuda, bahkan pelajar SMP Nasional Makassar, seperti Emmy, Wolter, dan Maulwi Saelan. Usia muda tak menghalangi mereka untuk mengangkat senjata, karena panggilan kemerdekaan jauh lebih besar dari rasa takut.

Ketika Monginsidi harus bergerak ke Makassar, Emmy dengan tegar melepasnya. Ia tahu perjalanan itu penuh bahaya. Tentara NICA semakin menguasai wilayah-wilayah sekitar kota. Namun, ketegaran itu lahir dari kesadaran bahwa perjuangan menuntut pengorbanan.

Aksi-aksi perlawanan Monginsidi dan kawan-kawan terasa begitu menghantam Belanda. Ia pun dijadikan target utama. Upaya penjajah akhirnya membuahkan hasil. Pada 27 Oktober 1947, Monginsidi ditangkap dan dipenjarakan. Di balik jeruji besi, tubuhnya boleh terkurung, tetapi semangatnya tidak. Ia mengisi hari-hari dengan menulis puisi, kata-kata yang menjadi saksi bahwa jiwa merdeka tak pernah bisa dipenjara.

Penjajah menuduhnya bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap Belanda di Makassar. Narasi itulah yang mengantarkannya pada vonis hukuman mati pada 26 Maret 1949. Belanda mengira kematiannya akan memutus rantai perlawanan bangsa Indonesia.

Mereka keliru besar !

Beberapa sumber menyebutkan Robert Wolter Monginsidi menolak pemutup mata saat eksekusi, pemuda ini menatap tajam setiap moncong senjata yang di arahkan kepadanya seakan mengisyaratkan "peluru kalian hanya akan membunuh raga kami, tapi tidak dengan semangat perjuangan kami".

Robert Wolter Monginsidi memang gugur di hadapan regu tembak pada 5 September 1949. Namun, kepergiannya justru menjadi bahan bakar bagi perlawanan yang lebih luas. Darahnya menyuburkan tekad bangsa ini untuk berdiri merdeka sepenuhnya.

Di masa kemerdekaan, negara akhirnya memberi tempat terhormat bagi jasanya. Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Robert Wolter Monginsidi pada 6 November 1973. Ia juga dianugerahi Bintang Mahaputera (Adipradana) pada 10 November 1973, sebuah pengakuan bahwa pengorbanannya adalah bagian abadi dari sejarah dan kehormatan bangsa Indonesia.

matacelebes

Posting Komentar

0 Komentar