Tahun telah berganti 2025 - 2026
Hanya kalimat itu yang terlintas dalam pikiran untuk membuka tulisan ini. Meski rasanya kurang elok untuk dijadikan alasan menghindari kegiatan yang paling disukai. Ya, ini masih tentang menulis. Masih sama seperti dulu.
Kata 'menghindari' mari kita ubah maknanya menjadi 'rehat sejenak'. Terdengar seperti eufemisme, memang. Tapi istilah itu jauh lebih melegakan. Setidaknya lebih memaafkan diri sendiri dibandingkan harus mengakui bahwa saya benar-benar hilang bak ditelan bumi. Rasanya sudah terlalu lama beristirahat dan membiarkan keliaran pikiran yang tidak sempat bermuara pada kata-kata.
Selama satu tahun kalender berganti, ada banyak draf di kepala yang lahir, tumbuh, lalu mati muda karena tak sempat diselamatkan oleh jemari ini. Ternyata, diam itu bising. Saat mulut terkunci dan jari berhenti menari di atas keyboard, dialog di dalam kepala justru semakin riuh tak terkendali.
Tulisan-tulisan yang tak sempat lahir itu berubah menjadi hantu. Mereka 'gentayangan' di sela-sela aktivitas harian. Mulai dari saat menyeduh kopi di pagi hari, atau saat menatap langit-langit kamar sebelum tidur. Mereka semua, menuntut untuk diabadikan.
Ya, keliaran pikiran itu akhirnya hanya menumpuk. Menjadi residu yang menyesakkan karena tak kunjung dikeluarkan.
Selama setahun ini, saya sibuk bertarung dengan realitas. Realitas pekerjaan, tuntutan sosial, hingga dinamika perasaan yang tak menentu. Saya sibuk menjadi manusia dewasa yang 'berfungsi', sampai lupa bahwa menulis bukan sekadar hobi.
Menulis sebenarnya adalah senjata terbaik untuk tetap waras menghadapi dunia yang semakin gila ini. Tanpa menulis, saya seperti prajurit yang maju ke medan perang dengan tangan kosong. Rentan, mudah terluka, dan tak punya cara untuk menyembuhkan diri.
Membiarkan keyboard berdebu sama saja dengan membiarkan satu sisi diri saya perlahan redup. Ada bagian dari jiwa yang ikut 'berkarat' seiring jarangnya kursor itu berkedip di layar.
Semakin lama menjauh, semakin besar pula tembok ketakutan yang terbangun. Ketakutan bahwa tulisan saya tak lagi relevan, ketakutan bahwa diksi saya telah tumpul, atau ketakutan sederhana bahwa tidak ada lagi yang peduli.
Namun, di penghujung tahun 2025 ini, artikel ini dibuat sebagai bentuk perlawanan. Bukan perlawanan pada dunia, melainkan perlawanan pada diri sendiri. Tulisan ini dapat dipastikan bukan untuk berlari kencang mengejar ketertinggalan statistik, berebut label 'Artikel Utama', atau memburu ribuan pageview. Tidak. Tulisan ini adalah langkah kecil untuk berjalan pelan kembali ke rumah.
Saya meniup debu-debu itu, Fuuuuh!!
Mungkin jari-jari ini masih kaku. Ritmenya mungkin tak lagi semerdu dulu. Mungkin diksi yang keluar terasa asing dan tidak seindah dulu. Tapi tidak apa-apa. Saya ingin berdamai dengan ketidaksempurnaan itu.
Karena pada akhirnya, saya belajar satu hal penting, bahwa menulis bukan soal seberapa hebat kita merangkai kalimat indah agar orang terpukau, tapi seberapa jujur kita menuangkan apa yang dirasa agar jiwa kita lega.
Seseorang pernah berkata kepada saya dengan nada yang menyiratkan keputusasaan, "Aku berhenti menulis ketika ia enggan membacanya."
Kalimat itu sempat menghantui saya. Apakah saya juga akan berhenti jika aktor utama pergi?
Hari ini, saya menemukan jawabannya. Lalu, saya berkata kepada seseorang dari kejauhan. Entah ia masih mendengar atau tidak.
"Saya tidak akan berhenti menulis, meski kamu sudah tidak lagi membacanya dengan hati yang sama."
Tidak ada satu orang pun yang bisa mematahkan pena ini, termasuk diri sendiri sekalipun. Sebab menulis adalah tentang saya yang merayakan kehidupan, bukan tentang siapa yang menjadi penontonnya.
"Puisiku tetap indah. Dengan, atau tanpa dia membacanya. Surat-surat itu tetap berharga meski tak terbalas. Tulisan-tulisanku tetap memiliki makna, meski diam adalah jawabannya. Ini bukan tentang tulisanku yang kehilangan makna. Tetapi tentang dia yang sudah tidak lagi ingin membaca dengan hati yang sama"
matacelebes

0 Komentar