Ilustrasi Sumber Daya Alam
Matacelebes - Doktrin bahwa Indonesia negara kaya sumber daya alam perlu dikoreksi dengan data yang lebih jujur. Cadangan minyak Indonesia hanya sekitar 2–3 miliar barel, sangat kecil dibanding Arab Saudi yang memiliki lebih dari 260 miliar barel, Iran sekitar 150 miliar barel, dan Rusia di atas 80 miliar barel.
Produksi minyak nasional juga terus menurun hingga di bawah 700 ribu barel per hari dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga Indonesia menjadi pengimpor minyak bersih.
Gas alam Indonesia berada di tingkat menengah dunia dan tertinggal jauh dari negara-negara pemilik cadangan raksasa, sementara batu bara sebagai andalan ekspor sangat bergantung pada fluktuasi harga global dan memiliki usia ekonomi terbatas.
Nikel dan mineral lain kerap disebut sebagai harta karun masa depan, namun cadangan besar tidak otomatis menjelma menjadi kekayaan nasional tanpa penguasaan teknologi dan industri hilir bernilai tinggi.
Perbedaan mendasar Indonesia dengan negara seperti Arab Saudi terletak pada rasio sumber daya alam terhadap jumlah penduduk, Indonesia berpenduduk besar dengan cadangan terbatas per kapita, sedangkan negara-negara Timur Tengah memiliki cadangan energi raksasa dengan populasi relatif kecil.
Karena itu, Indonesia sejatinya bukan negara kaya sumber daya alam, melainkan negara dengan sumber daya moderat yang hanya bisa maju jika pembangunan bertumpu pada kualitas sumber daya manusia, industri bernilai tambah, dan inovasi.
Meski sumber daya alam terutama pertambangan dan minyak serta gas—masih memainkan peran penting dalam struktur perekonomian Indonesia, meskipun kontribusinya tidak sedominan negara-negara pengekspor energi utama seperti Arab Saudi.
Pada 2023, sektor mineral dan batu bara (minerba) menyumbang sekitar Rp2.198 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, atau setara 10,5 persen dari total PDB nasional yang mencapai Rp20.892 triliun.
Angka ini menunjukkan bahwa subsektor pertambangan dan penggalian menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi, penerimaan negara, dan kinerja ekspor nasional, didukung oleh ekspor komoditas utama seperti batu bara, minyak, gas, serta mineral logam seperti nikel, timah, dan emas. Jika dibandingkan dengan Arab Saudi, posisi Indonesia jauh lebih moderat.
Pada 2023, aktivitas ekonomi non-migas di Arab Saudi berkontribusi sekitar 50 persen terhadap PDB, yang berarti sektor migas (minyak dan gas) juga menyumbang sekitar 50 persen dari PDB negara tersebut.
Angka ini menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber daya alam, terutama minyak, yang membuat perekonomian Saudi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Meskipun demikian, pemerintah Arab Saudi sedang mendorong transformasi struktural melalui program Vision 2030, dengan memperluas peran sektor non-migas seperti pariwisata, teknologi, dan jasa keuangan, agar ekonomi menjadi lebih beragam dan berkelanjutan.
Rusia juga menunjukkan karakter ekonomi yang sangat bergantung pada sumber daya alam, khususnya minyak, gas, dan logam.
Struktur ekonominya menunjukkan bahwa sektor industri (termasuk energi dan manufaktur berbasis sumber daya) menyumbang sekitar 40 persen dari PDB, sementara sektor jasa menyumbang lebih dari 50 persen.
Ketergantungan ini membuat kinerja ekonomi Rusia sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar komoditas global dan faktor geopolitik, seperti sanksi internasional dan perubahan harga energi.
Australia memberikan perbandingan menarik bagi Indonesia sebagai negara eksportir komoditas utama. Industri pertambangan Australia menyumbang sekitar 13,7 persen dari PDB nasional, lebih tinggi dibandingkan kontribusi sektor minerba di Indonesia.
Ekspor komoditas tambang seperti batu bara, bijih besi, dan emas menjadi sumber pendapatan utama negara, dengan nilai ekspor mencapai 2,4 triliun dolar Australia dalam satu dekade terakhir.
Selain itu, sektor pertambangan Australia juga memberikan dampak luas melalui multiplier effect, yaitu peningkatan pendapatan dan belanja yang menyebar ke sektor lain seperti kesejahteraan, kesehatan, pertahanan, pendidikan, dan layanan publik.
Dalam satu dekade terakhir, kontribusi sektor pertambangan diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi Australia sebesar 21 persen, menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian.
Sebaliknya, negara-negara industri maju seperti Jepang dan Jerman menunjukkan model ekonomi yang sangat berbeda. Kontribusi langsung sektor pertambangan terhadap PDB di kedua negara ini sangat kecil, umumnya di bawah 1–2 persen.
Perekonomian mereka didominasi oleh sektor jasa (lebih dari 70 persen dari PDB) dan manufaktur berteknologi tinggi, bukan eksploitasi sumber daya alam domestik.
Namun, kecilnya peran pertambangan domestik tidak berarti mereka lepas dari sumber daya alam.
Justru sebaliknya, Jepang dan Jerman sangat bergantung pada impor minyak, gas, dan mineral dari negara-negara produsen seperti Indonesia, Arab Saudi, Rusia, dan Australia untuk menopang industri dan kebutuhan energinya.
Dalam konteks ini, ketergantungan Indonesia terhadap sumber daya alam sekitar 10,5 persen dari PDB dapat dinilai signifikan namun masih moderat dibandingkan negara pengekspor energi utama.
Posisi ini memberikan ruang strategis bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi ekonomi tanpa harus melepaskan keunggulan komparatifnya di sektor komoditas.
Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan kekayaan sumber daya alam sebagai modal awal untuk mendorong hilirisasi, penguatan manufaktur, dan ekspansi sektor jasa bernilai tambah tinggi.
Dengan strategi tersebut, sumber daya alam tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga fondasi transformasi ekonomi Indonesia menuju struktur yang lebih berimbang, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)
Dr. Noviardi Ferzi
Penulis adalah akademisi


0 Komentar