Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Trend Musim Sulit di Tebak


Ilustrasi

Makassar - Pernah merasa musim hujan datang terlalu cepat, atau justru kemarau terasa jauh lebih panjang dari biasanya? Fenomena hujan deras yang mengguyur beberapa jam, lalu disusul panas terik berminggu-minggu, kini makin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. 

Banyak yang bertanya-tanya, apakah kalender musim yang dulu kita hafal di sekolah sudah tidak berlaku lagi? Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono, yang juga Ketua Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI) menegaskan, musim di Indonesia tidak hilang, tapi karakternya memang sedang berubah drastis. 

 "Jadi, bukan berarti musim sudah 'tidak ada', tetapi batas awal-akhir musim dan distribusi hujannya menjadi semakin tidak stabil," kata Prabang saat diwawancarai 

Menurut Prabang, sulitnya memprediksi musim di Indonesia tidak lepas dari posisi geografisnya yang unik dan kompleks. Indonesia diapit dua samudra besar, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia. 

Sistem iklim yang sangat dinamis ini membuat perubahan kecil saja pada suhu permukaan laut, tekanan atmosfer, angin monsun, hingga kelembapan, dapat langsung mengubah distribusi hujan di berbagai daerah. 

Kondisi itu kemudian diperparah oleh perubahan iklim. Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Akibatnya, ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan, hujan bisa turun dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu yang relatif singkat. 

"Sebaliknya, periode tanpa hujan dapat menjadi lebih panjang di antara kejadian hujan," jelasnya. 

Seberapa besar peran perubahan iklim? Lantas, apakah semua keterlambatan musim hujan sepenuhnya salah perubahan iklim? Prabang mengingatkan agar publik berhati-hati dalam menyimpulkan. 

Pengaruh perubahan iklim itu nyata, namun tidak bisa dinyatakan dengan satu angka persentase yang sama untuk seluruh Indonesia yang sangat luas. Perubahan iklim lebih banyak mengubah kondisi dasar atau baseline iklim dan hidrologi. 

Sementara kapan tepatnya musim hujan atau kemarau dimulai, tetap sangat dipengaruhi oleh variabilitas alami tahunan seperti ENSO (El Nino dan La Nina) serta Indian Ocean Dipole (IOD).

 "Secara ilmiah kita harus berhati-hati mengatakan: 'Musim hujan terlambat 100 persen karena perubahan iklim.' Pernyataan tersebut terlalu sederhana," tegasnya.

 Yang terjadi adalah, variabilitas alami seperti El Nino, La Nina, dan IOD kini bekerja di atas kondisi iklim yang sudah berubah akibat pemanasan global. Dampak nyatanya di lapangan berupa: Perubahan waktu awal musim hujan dan kemarau Perubahan panjang durasi musim Perubahan jumlah hari hujan Peningkatan intensitas hujan ekstrem Peningkatan risiko kekeringan di wilayah dan periode tertentu

Prabang menyebut pola itu konsisten dengan manifestasi perubahan iklim, namun satu kejadian saja tidak cukup untuk menjadi bukti. Ia menjelaskan prinsip ilmiahnya. Secara termodinamika, kapasitas udara menampung uap air meningkat sekitar 7 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius, sesuai hubungan Clausius-Clapeyron. 

Konsekuensinya, ketika hujan terjadi, ada lebih banyak uap air yang bisa dilepaskan, sehingga potensi hujan ekstrem meningkat. 
Setelah hujan lebat, sistem atmosfer berubah dan wilayah tersebut bisa kembali mengalami periode kering. 

"Suatu daerah bisa saja mempunyai total curah hujan tahunan relatif sama, tetapi distribusinya berubah menjadi semakin ekstrem: sedikit hari hujan menghasilkan sebagian besar total hujan," papar Prabang. Artinya, yang berubah bukan hanya jumlah hujan, tapi polanya. 

Dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari Ketidakpastian musim ini bukan sekadar isu di atas kertas. Dampaknya langsung terasa di hampir seluruh aktivitas manusia. 

Pertanian: Petani menjadi kelompok paling terdampak. Mereka semakin sulit menentukan waktu tanam. Jika hujan datang terlalu awal, terlalu lambat, atau berhenti setelah tanam, tanaman bisa gagal tumbuh. Hujan ekstrem juga memicu erosi, banjir, dan hilangnya unsur hara tanah. 

Nelayan dan perikanan: Perubahan angin, gelombang, suhu laut, dan pola hujan memengaruhi keselamatan melaut sekaligus distribusi ikan. Nelayan kini semakin membutuhkan informasi cuaca dan laut secara real-time. 

Krisis air bersih: Persoalannya bukan lagi "berapa banyak hujan", tapi kapan dan di mana hujan turun. Hujan ekstrem dalam waktu singkat sebagian besar hanya menjadi limpasan permukaan jika kapasitas infiltrasi dan tampungan air tidak memadai. Setelah itu, masyarakat justru kembali mengalami kekurangan air.

 Perkotaan dan kesehatan: Di kota, hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat meningkatkan risiko banjir, sementara periode kering meningkatkan tekanan terhadap pasokan air baku. Dari sisi kesehatan, perubahan temperatur, kelembapan, dan genangan air dapat memengaruhi risiko penyakit berbasis vektor seperti DBD. 

Infrastruktur: Jalan, drainase, bendungan, jaringan air minum, dan irigasi yang dirancang berdasarkan data iklim masa lalu bisa menjadi kurang relevan jika kondisi iklim terus berubah.

Prabang menegaskan, musim di Indonesia tidak serta-merta menjadi acak. Yang terjadi adalah sistem iklim semakin dipengaruhi kombinasi variabilitas alami yang kuat dan perubahan baseline akibat pemanasan global. Karena itu, respons paling rasional bukanlah mencoba kembali mencari pola musim lama yang sudah tidak stabil. 

"Yang perlu dibangun adalah sistem pertanian, tata air, perkotaan, dan pengelolaan lingkungan yang adaptif terhadap ketidakpastian iklim," pungkasnya.(**)

Posting Komentar

0 Komentar