Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengarahkan pengembangan riset dan inovasi untuk menjawab kebutuhan strategis sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Arah tersebut mencakup penguatan teknologi pada bidang pangan, air, energi, industri, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan, pengembangan riset perlu mempertimbangkan persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Pangan, air, dan energi, menurutnya, merupakan kebutuhan mendasar yang perlu diperkuat melalui dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kita hanya bisa menjadi negara yang maju kalau urusan pangan selesai, urusan air selesai, urusan energi selesai. Jangan sampai air yang dulunya kita agak berlimpah sekarang menjadi persoalan,” ujar Arif dalam Forum Dialog Strategis BRIN dan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH) di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Selasa 29/09/2026
Menurut Arif, kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah pengembangan riset. BRIN mengembangkan berbagai penelitian untuk menjawab persoalan strategis, antara lain teknologi desalinasi untuk mendukung ketersediaan air serta penelitian material yang berkaitan dengan efisiensi penyimpanan gas.
Pengembangan agenda riset juga perlu mempertimbangkan perkembangan teknologi agar tidak hanya menjawab persoalan saat ini, tetapi mempersiapkan kebutuhan masa depan. Sejumlah bidang seperti kecerdasan artifisial, genomika, ilmu material, teknologi antariksa, dan nuklir menjadi bagian dari perkembangan teknologi yang perlu diperhatikan dalam penyusunan arah riset nasional.
Dari Riset Menuju Pemanfaatan
Arif menilai pengembangan teknologi perlu diikuti kemampuan membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan. Tantangannya bukan hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi membangun jalur agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi teknologi, produk, atau solusi yang memberikan nilai tambah.
Dalam konteks tersebut, hubungan antara riset dan industri menjadi penting. Keterkaitan antara industri, komersialisasi, dan inovasi diperlukan agar hasil penelitian dapat memberikan kontribusi lebih luas.
“Pertumbuhan bisa terjadi karena adanya industri. Industri bisa terjadi karena ada komersialisasi. Komersialisasi bisa terjadi karena adanya inovasi-inovasi yang ditampilkan,” tutur Arif.
BRIN juga terus membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi karena institusi pendidikan tinggi merupakan salah satu sumber ilmuwan dan talenta yang dapat memperkuat kapasitas riset nasional.
Kolaborasi tersebut antara lain diarahkan melalui berbagai skema riset dan pengembangan pusat inovasi di perguruan tinggi. Tema penelitian dapat disesuaikan dengan keunggulan masing-masing institusi, termasuk bidang obat herbal, vaksin, dan pangan.
Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi tidak sekadar menjadi tahapan setelah penelitian selesai. Prosesnya perlu mempertemukan kebutuhan pengguna, kapasitas ilmuwan, pengembangan teknologi, dan mitra yang dapat membawa hasil penelitian menuju pemanfaatan.(**)
Humas BRIN
0 Komentar