Luwu - Sungai Suso adalah urat nadi kehidupan masyarakat Kabupaten Luwu. Sungai ini merupakan sumber air minum dan irigasi puluhan ribu hektare sawah. Hari ini, urat nadi itu terancam putus akibat ulah diduga kejahatan lingkungan.
Kerusakan lingkungan terjadi di dua titik. Di hulu, Kecamatan Latimojong, ada konsesi tambang PT Masmindo Dwi Area seluas 14.390 ha. Sebagian wilayahnya adalah eks-hutan lindung. Fungsi hutan sebagai daerah resapan, penyangga banjir, dan rumah bagi flora-fauna endemik Sulawesi kini terancam.
Kerusakan lebih parah terjadi di sepanjang aliran sungai, khususnya di Bajo Barat dan Latimojong desa Kadundung Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dengan alat berat beroperasi terang-terangan.
Struktur sungai hancur. Bantaran dan sempadan sungai digali hingga meninggalkan kubangan dan tumpukan pasir yang menggunung. Sungai yang dulu airnya jernih dan berkelok indah kini keruh, tanpa alur yang jelas.
Dampak sosialnya nyata. Sungai tak lagi bisa jadi tempat bermain anak, tempat ibu mencuci, atau tempat petani membersihkan diri. Fungsi sosial dan ekologisnya hilang.
Yang lebih berbahaya adalah bencana yang sedang kita tabung. Secara hidrologis, hulu yang gundul akan memperbesar aliran permukaan. Saat hujan deras, air akan menyapu tumpukan pasir dan lumpur hasil PETI di sepanjang sungai.
Material itu akan menutup saluran irigasi, mendangkalkan sungai, dan menimbun sawah serta rumah warga. Ancaman banjir bandang berlumpur tinggal menunggu waktu.
Pemda terkesan membiarkan. Hari ini dirazia, besok beroperasi lagi. Diduga ada pembeking oknum dan pembiaran oknum pemerintah desa.
Ini bukan lagi soal ekonomi, tapi soal kejahatan lingkungan. Keuntungan emas ilegal dinikmati segelintir orang. Kerugiannya ditanggung rakyat Luwu.
Tindakan yang harus diambil untuk cegah munculnya bencana. 1). Tutup total PETI di DAS Suso dan proses hukum pemodal serta bekingnya. 2). Audit lingkungan terbuka untuk semua aktivitas tambang di hulu Suso. 3). Program restorasi DAS Suso dan penataan sempadan sungai.
Dengan kondisi lingkungan yang sudah cukup parah terancam bencana banjir dan longsor, maka diharapkan keseriusan Pemerintah untuk segera menangani ancaman ini.
Jangan sampai kita benar-benar sedang menambang emas untuk mendulang bencana bagi anak cucu kita.(**)
0 Komentar