Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Imbas El Nino 7 Ha. Lahan Hangus, 122 Kejadian Karhutla.


Ilustrasi

Parepare - Sebanyak 122 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menerjang Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), sejak Juni hingga Agustus 2026. Bencana yang dipicu fenomena cuaca ekstrem El Nino itu mengakibatkan sekitar 7 hektare lahan dan 0,2 hektare kawasan hutan hangus terbakar.

Kepala Pelaksana BPBD Parepare, Rasdy Gery mengatakan intensitas karhutla terus meningkat secara signifikan. Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan dini yang dirilis oleh BMKG.

"Untuk kondisi kebakaran lahan sesungguhnya kita dipengaruhi oleh El Nino ya, yang sudah memasuki mulai bulan Juni kemarin tahun 2026. Nah, intensitasnya itu meningkat berkaitan dengan status yang sudah dikeluarkan oleh pihak BMKG," kata Rasdy, Rabu (12/8/2026).

Rasdy menjelaskan, status kewaspadaan bencana di Parepare mengalami kenaikan secara bertahap sejak awal musim kemarau. Kenaikan status dari Waspada menjadi Siaga tersebut bertahan hingga memasuki bulan Agustus.

"Untuk bulan Juni-Juli itu status kita masih Waspada. Sementara memasuki bulan Juli itu status kita sudah mulai ada peningkatan dari status Waspada menjadi status Siaga. Kondisi ini bertahan sampai dengan di bulan Agustus 2026," jelasnya.

Menurutnya, tingkat kerawanan bencana yang tinggi membuat dua dari empat kecamatan di Parepare kini ditetapkan dalam kondisi darurat. Sementara dua kecamatan sisanya tetap disiagakan dengan tingkat kewaspadaan penuh.

"Ada dua kecamatan yang tetap bertahan pada status Siaga Darurat, yaitu Kecamatan Bacukiki dan Kecamatan Bacukiki Barat. Sedangkan dua kecamatan lainnya berstatus Waspada," jelas Rasdy.

Amukan si jago merah telah melahap sejumlah area lahan serta kawasan hutan lindung di Parepare. Beberapa titik hutan yang terdampak berada di kawasan BRIN, Gunung Tolong, hingga Tonrangeng Dalam.

"Untuk luasan sendiri sampai detik ini per kemarin itu kurang lebih sudah 7 hektar lahan yang terbakar, khusus lahan ya. Kemudian hutan kurang lebih 0,2 hektar. Ada beberapa hutan kita yang ada di Parepare ini yang mengalami kebakaran, contoh di samping dan belakang BRIN, kemudian hutan di Gunung Tolong, serta hutan yang ada di Tonrangeng Dalam yang dekat pemancar," paparnya.

BPBD mencatat jumlah insiden pemadaman jauh lebih banyak dibandingkan total titik api (hotspot) yang terdeteksi. Hal itu terjadi karena beberapa lokasi mengalami kebakaran berulang hingga berkali-kali.

"Kalau untuk berbicara titik, sampai detik ini sudah ada 69 titik. Tapi kejadian sudah ada sekitar 122 kejadian kebakaran. Karena ada satu titik yang berulang. Contoh di Bulu Batue, itu sudah 3-4 kali berulang kebakaran. Barusan tadi lagi di Minrulangnge, itu sudah keempat kalinya kita adakan pemadaman," terangnya.

Dipicu Cuaca Ekstrem dan Kelalaian Manusia

Penyebaran api kian cepat tak terkendali akibat kombinasi hembusan angin kencang dan suhu udara yang panas. Kecepatan angin di Parepare saat ini bahkan mencapai hingga 50 km/jam.

"Kecepatan angin kita ini rata-rata di Parepare saat ini 25 sampai 35 km/jam, dengan hembusan angin kecepatannya itu bisa mencapai 50 km/jam. Suhu rata-rata harian di Kota Parepare itu berkisar 31 sampai 32 derajat," beber Rasdy.

Selain faktor iklim, BPBD menduga adanya campur tangan serta kelalaian warga sebagai pemicu kebakaran. Aktivitas pembersihan lahan dengan cara dibakar hingga pembuangan puntung rokok sembarangan menjadi perhatian serius.

"Kebanyakan yang kami duga itu adalah tindakan yang dilakukan oleh masyarakat. Entah itu dengan alasan mau buka lahan, kemudian mungkin juga ada pemilik ladang lahan itu yang tidak secara sadar merokok, terus puntungnya dibiarkan di lahan tersebut," tegasnya.

Sejauh ini belum ada laporan mengenai rumah warga yang ikut hangus dilalap api akibat karhutla. Meski demikian, kebakaran lahan kosong di dekat kampus IAIN sempat merembet dan melalap fasilitas sekretariat mahasiswa.

 "Tapi ada satu kejadian yang terjadi di IAIN kemarin, itu lahan kosong terbakar sehingga mempengaruhi tiga sekretariat mahasiswa yang berada di IAIN," ujarnya.

Pengerahan Armada Gabungan
Menanggapi maraknya kebakaran, BPBD telah mengusulkan penetapan status Siaga Darurat secara resmi kepada Wali Kota Parepare, Tasming Hamid. Pihaknya juga memasifkan edukasi pencegahan karhutla secara langsung kepada warga.

"Penetapan status itu harus ditetapkan oleh Wali Kota, kami sebatas mengusul kepada Wali Kota. Upaya-upaya yang sudah kita lakukan antara lain penyebaran informasi agar selalu berhati-hati, waspada terkait kebakaran. Lebih banyak kepada edukasi," ujar Rasdy.

Proses pemadaman di lapangan dilakukan secara kolaboratif bersama Damkar Parepare serta instansi pendukung lainnya. Armada gabungan dari Brimob, PDAM, hingga DLH turut dikerahkan untuk membantu suplai air dan personil.

"Kalau khusus di BPBD sendiri 1 unit mobil tangki, 1 unit mobil operasional untuk personel, dan 4 buah kendaraan. Itu sifatnya kita backup. Yang utama adalah Dinas Pemadam Kebakaran sendiri. Sementara itu juga kita dibantu oleh personel dari SAR Brimob, bantuan dari PDAM untuk suplai air, kemudian dari DLH juga untuk suplai air," urainya.

Untuk mencegah kejadian berulang, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan aktivitas pemicu api. Kesadaran warga sangat dibutuhkan agar dampak kemarau ekstrem tidak meluas ke permukiman.

"Tetap waspada, jaga kesehatan, jangan melakukan tindakan yang dapat merugikan masyarakat lain. Walaupun masyarakat berpikir bahwa itu lahannya, tapi bisa mempengaruhi masyarakat yang berada di sekitar lahan dimaksud," pungkasnya.(**)


Posting Komentar

0 Komentar