Bagi pria paruh baya di wilayah Toddopuli, tidak ada topik yang lebih hangat diperbincangkan di pos ronda selain sosok Lidya nan sexy dan menggairahkan.
Dia adalah seorang janda muda berparas menawan yang baru saja menyewa rumah kontrakan di sudut gang.
Kulitnya yang putih bersih kontras dengan rambut hitamnya yang selalu dibiarkan terurai. Ditambah cara berjalannya yang gemulai, sosok Lidya sukses membuat konsentrasi para suami di komplek tersebut buyar seketika. Terutama setiap kali ia melintas untuk pergi berbelanja.
Daeng Noncy adalah salah satu pria yang paling menderita akibat kehadiran Lidya. Di usianya yang sudah kepala lima, ego kelaki-lakiannya mendadak bergejolak kembali.
Hasrat itu muncul setelah bertahun-tahun meredup di bawah tekanan daster lusuh istrinya yang cerewet. Kini, dia merasa harus menunjukkan sisa-sisa keperkasaannya di depan sang janda muda. Semua demi membuktikan bahwa dirinya belum habis dimakan usia.
^Kesempatan emas itu akhirnya tiba pada Minggu pagi. Lidya sang janda muda didaulat menjadi instruktur tamu. Tugasnya adalah memimpin kegiatan senam kebugaran di lapangan serbaguna komplek.
Begitu melihat Lidya berdiri di atas panggung darurat, jantung daeng Noncy langsung berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Lidya mengenakan pakaian senam ketat berwarna merah muda yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal.
Daeng Noncy sengaja mengambil posisi paling depan, tepat di bawah panggung. Ia mengenakan kaos singlet ketat dan celana training usang yang dipaksakan ketat. Semua dilakukan demi memperlihatkan otot-otot lengannya yang sebenarnya sudah menggelambir.
“Perhatikan baik-baik dinda Lidya. Jangan sampai kau kira orang tua seperti saya ini sudah tidak bisa mengimbangi gerakanmu,” gumam Daeng noncy dalam hati. Senyum genit terus mengembang di bibirnya.
Musik disko remix dengan dentuman bas yang sangat keras mulai menggema membakar suasana. Di atas panggung, Lidya mulai melakukan pemanasan. Ia memperagakan goyangan pinggul memutar yang sangat lentur dan sensual. Hal ini membuat mata Daeng noncy melotot hampir keluar dari kelopaknya.
Ditantang oleh goyangan maut sang janda muda, jiwa muda Daeng Noncy yang telah lama mati, mendadak bangkit secara brutal. Tanpa melakukan pemanasan otot terlebih dahulu, dia langsung memaksakan diri mengikuti gerakan meliuk-liuk ekstrem tersebut.
Dia menghentakkan kakinya. Dia menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan ritme yang terlalu menggebu-gebu. Bahkan, ia mencoba melakukan gerakan kayang setengah jongkok demi menarik perhatian Lidya yang sesekali tersenyum ramah ke arah penonton.
Namun, nasib malang tidak pernah memberikan sinyal peringatan lewat aplikasi pesan singkat.
Saat musik mencapai klimaks dan Lidya memperagakan gerakan goyangan memutar dengan cepat ke arah bawah, Daeng noncy tidak mau kalah. Ia mencoba melakukan gerakan putaran pinggul secara radikal dan mendadak.
Tiba-tiba terdengar suara “kreekk” yang cukup nyaring dari arah punggung bagian bawahnya. Rasa sakit luar biasa pun menjalar bagai sengatan listrik tegangan tinggi. Sakitnya merambat cepat dari pinggang hingga ke ujung jempol kakinya.
Seketika itu juga, tubuh Daeng noncy terkunci dalam posisi nungging setengah membungkuk dengan kedua tangan memegangi lutut. Tubuhnya tidak bisa diluruskan kembali sama sekali.
Dia mencoba berteriak minta tolong. Namun karena menahan rasa sakit yang teramat sangat, suara yang keluar dari tenggorokannya justru terdengar seperti erangan sensual yang aneh.
“Ooooh… dindaa… adoooh… nikmat… eh, sakit sekali!” teriak Daeng noncy dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi dan bermandikan keringat dingin.
Warga yang berada di sekitarnya, termasuk istrinya yang baru datang membawa botol air minum, awalnya mengira Daeng noncy sedang kesurupan. Mereka mengira ia sedang memperagakan gaya senam kreasi baru yang sangat ekspresif.
Namun begitu melihat tubuh suaminya bergetar hebat dan perlahan ambruk ke tanah dengan posisi masih nungging kaku bagaikan udang rebus, kepanikan massal pun pecah.
“Astaga, bapaknya Rijal! Kenapa posisimu seperti itu? Jangan bikin malu di depan janda!” teriak istrinya histeris sambil memukul pundak Daeng noncy dengan botol minum plastik.
“Kecetitka’ dinda! Pinggangku terkunci, tidak bisa lurus!” raung Daeng noncy menahan tangis dan rasa malu yang luar biasa.
Suasana senam pagi yang ceria seketika berubah menjadi tontonan komedi yang mengocok perut. Karena tubuh Daeng noncy sama sekali tidak bisa diluruskan, petugas keamanan komplek terpaksa menggotongnya ramai-ramai menggunakan tandu darurat.
Ia digotong dalam posisi nungging menyamping, tepat melewati hadapan Lidya sang janda muda. Lidya hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa geli sekaligus kasihan.
Penyesalan memang selalu datang belakangan setelah harga diri hancur lebur di tengah lapangan. Akibat terlalu bernafsu mengejar dan mengimbangi goyangan sang janda muda, Daeng noncy kini hanya bisa tiarap pasrah di atas kasur tipis ruang tengah rumahnya.
Punggungnya penuh dengan tempelan koyo cabai yang panas membakar dan bau minyak urut yang menyengat.
Sementara di luar rumah, cerita tentang “Goyangan Janda Muda” yang membuat pinggang Daeng noncy patah langsung menjadi legenda komedi baru.
Kisah ini digosipkan dari warkop ke warkop seantero Toddopuli. Kejadian ini membuat sang pria paruh baya itu harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk tampil perkasa di sisa hidupnya.(**)
Disclaimer : Seluruh isi tulisan ini adalah karya fiksi belaka. Nama tokoh, latar tempat, maupun peristiwa yang terjadi di dalamnya hanyalah hasil dramatisasi dan imajinasi kreatif penulis untuk kebutuhan hiburan semata. Segala kemiripan nama, karakter, atau lokasi dengan pihak-pihak tertentu di dunia nyata adalah murni kebetulan belaka dan tidak dimaksudkan untuk menyasar atau menyinggung siapa pun.
0 Komentar