Ada seorang anak yang setiap pagi berangkat sekolah dengan sepatu lama. Solnya mulai terbuka, bagian depannya menganga. Ibunya beberapa kali menjahitnya agar sepatu itu masih bisa dipakai.
Anak itu tidak banyak mengeluh. Ia tahu, ibunya sedang berusaha.
Ayahnya bekerja serabutan. Penghasilannya tidak selalu cukup. Jika hari itu mendapat pekerjaan, mereka bisa makan lebih baik. Jika tidak, sang ibu kembali menghitung uang belanja sambil memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah.
Di tempat lain, seorang nelayan sedang menarik jaring dari laut yang semakin sulit memberinya hasil. Seorang petani menghitung biaya pupuk dan benih. Seorang buruh menunggu tanggal gajian. Seorang pemuda mengirim lamaran pekerjaan untuk kesekian kalinya.
Mereka semua adalah rakyat Indonesia. Mereka juga bagian dari cerita kemerdekaan.
Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman untuk kita ajukan: apakah kemerdekaan benar-benar dirasakan dengan cara yang sama oleh semua orang?
Kemerdekaan yang Kita Rayakan
Agustus kembali datang. Merah Putih berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, jalan-jalan, dan gedung pemerintahan. Lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara digelar, perlombaan diselenggarakan. Anak-anak berlari membawa bendera kecil, sementara keluarga berkumpul merayakan hari kemerdekaan.
Semua itu patut disyukuri. Sebab kemerdekaan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia dibayar dengan darah, air mata, kehilangan, dan pengorbanan.
Ada orang-orang yang meninggalkan rumah dan keluarga. Ada yang kehilangan pekerjaan, harta, bahkan nyawa. Mereka berjuang agar generasi setelahnya tidak lagi hidup di bawah kekuasaan bangsa lain.
Mereka mungkin tidak pernah menyaksikan Indonesia seperti yang kita kenal hari ini. Mereka tidak menikmati gedung-gedung tinggi, kemajuan teknologi, kemudahan komunikasi, atau berbagai fasilitas yang kini dianggap biasa.
Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu: sebuah negeri yang harus dijaga.
Karena itu, setiap kali Merah Putih berkibar, sesungguhnya kita sedang mengingat sebuah amanah.
Bukan sekadar amanah untuk mempertahankan wilayah, tetapi juga menjaga cita-cita yang melatarbelakangi perjuangan itu: agar manusia di negeri ini dapat hidup dengan martabat, memperoleh keadilan, dan memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Maka pertanyaan tentang kemerdekaan tidak cukup berhenti pada, “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Untuk apa kemerdekaan itu diwariskan kepada kita?”
Kemerdekaan Adalah Amanah
Di sinilah kemerdekaan bertemu dengan ajaran Islam.
Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari amanah. Harta adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Kekuasaan adalah amanah.
Bahkan kesempatan yang diberikan Allah kepada seseorang untuk memimpin dan mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan banyak orang adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa: 58)
Ayat ini menyandingkan amanah dengan keadilan. Seolah-olah Allah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab.
Temukan lebih banyak
Ketika amanah diabaikan, keadilan mudah dikorbankan. Dan ketika keadilan hilang, yang paling dahulu merasakan akibatnya biasanya adalah mereka yang memiliki kekuatan paling kecil.
Rasulullah SAW juga mengingatkan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu ketika ia meminta jabatan.
Nabi menyebut kepemimpinan sebagai amanah yang pada hari kiamat dapat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mampu menunaikannya dengan benar.
Betapa berbeda cara pandang ini dengan kebiasaan manusia yang sering melihat jabatan sebagai tanda keberhasilan.
Dalam pandangan Islam, jabatan bukan sekadar kehormatan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula pertanggung jawabannya.
Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?”
Ia harus bertanya: “Berapa banyak kehidupan manusia yang akan berubah karena keputusan yang saya buat?”
Di situlah kekuasaan dapat berubah dari ambisi menjadi ibadah.
Benarkah Rakyat Sudah Merdeka?
Jika kemerdekaan adalah amanah, maka ukuran keberhasilan sebuah negara tidak cukup dilihat dari gedung yang berdiri, jalan yang terbentang, investasi yang masuk, atau angka pertumbuhan ekonomi yang meningkat.
Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah kemajuan tersebut benar-benar membuat manusia hidup lebih layak dan bermartabat?
Indonesia adalah negeri yang kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya menyimpan kekayaan, dan sumber daya alamnya melimpah. Manusianya kreatif, sementara generasi mudanya memiliki energi dan gagasan.
Namun, kekayaan tidak otomatis melahirkan kesejahteraan.
Jika seorang petani masih kesulitan menyekolahkan anaknya, ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Jika seorang nelayan hidup di tengah laut yang kaya tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya, ada sesuatu yang harus dipikirkan.
Jika anak muda berpendidikan masih kesulitan mendapatkan pekerjaan layak, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Jika masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah kaya sumber daya alam justru hidup dalam kemiskinan, kita tidak boleh hanya terpaku pada angka pertumbuhan ekonomi.
Sebab di balik setiap angka ada manusia.
Di balik angka kemiskinan ada seorang ibu yang harus memilih antara membeli beras atau memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
Di balik angka pengangguran ada seorang sarjana yang berulang kali mengirim lamaran sambil bertanya-tanya apakah masa depannya masih memiliki tempat.
Di balik angka stunting ada seorang anak yang tidak pernah memilih untuk lahir dalam keadaan kekurangan gizi.
Karena itu, rakyat tidak boleh diperlakukan hanya sebagai statistik.
Mereka bukan angka dalam laporan, bukan sekadar sasaran program, dan bukan komoditas yang baru diingat ketika pemilu tiba.
Mereka adalah manusia yang memiliki kehormatan.
Pembangunan yang baik bukan hanya yang terlihat dari atas, tetapi yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Penjajahan yang Belum Selesai
Ada Penjajahan yang Belum Selesai
Ada bentuk penjajahan yang tidak datang dengan kapal perang. Tidak memakai seragam. Tidak membawa senjata. Tidak mengibarkan bendera asing.
Ia datang melalui keserakahan. Korupsi adalah salah satu bentuknya.
Ketika seseorang mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, yang dirampas bukan hanya angka dalam rekening negara. Yang hilang dapat berupa ruang kelas, layanan kesehatan, jalan yang seharusnya dibangun, kesempatan kerja, bahkan masa depan seseorang.
Karena itu, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah pengkhianatan terhadap amanah.
Seorang manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatannya dari masyarakat. Ia mungkin dapat menggunakan kekuasaan, pengaruh, atau berbagai cara untuk menghindari pertanggung jawaban di dunia.
Tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah. Di sinilah kita perlu memahami kemerdekaan dalam makna yang lebih dalam.
Sebuah bangsa dapat merdeka secara politik, tetapi manusianya belum tentu merdeka dari keserakahan. Seseorang dapat memiliki jabatan tinggi, tetapi diperbudak oleh ambisi. Dapat memiliki kekayaan berlimpah, tetapi tidak pernah merasa cukup. Dapat memiliki kekuasaan, tetapi takut berkata benar karena khawatir kehilangan kedudukan.
Lalu, apa arti kebebasan jika manusia masih menjadi budak hawa nafsunya sendiri?
Kemerdekaan sejati bukan kebebasan untuk melakukan apa saja.
Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia mampu membebaskan dirinya dari ketundukan kepada keserakahan, kesombongan, ketakutan, dan hawa nafsu.
Ia berani berkata benar ketika kebohongan lebih menguntungkan. Ia menolak suap ketika kesempatan terbuka. Ia mengembalikan sesuatu yang bukan haknya. Ia membela orang yang dizalimi meskipun tidak mendapatkan keuntungan.
Dan bagi seorang Muslim, puncak kemerdekaan itu adalah ketika hati tidak tunduk kepada siapa pun selain Allah.
Apa yang Akan Kita Wariskan?
Setiap generasi pada akhirnya akan menjadi masa lalu. Pertanyaannya bukan hanya apa yang berhasil kita bangun, tetapi apa yang kita tinggalkan ketika kita pergi.
Kita sering mengatakan bahwa anak muda adalah masa depan bangsa. Namun, masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan slogan.
Kita harus memberi mereka pendidikan yang layak, kesempatan untuk berkembang, ruang untuk berpikir, akses terhadap teknologi, lingkungan yang sehat, dan yang paling penting: teladan.
Sulit meminta anak muda menjadi jujur jika mereka tumbuh melihat kebohongan dihargai.
Sulit mengajarkan antikorupsi jika mereka melihat orang yang korup justru hidup mewah.
Sulit meminta mereka menghormati hukum jika mereka menyaksikan hukum dapat dinegosiasikan.
Dan sulit meminta mereka mencintai negeri jika mereka merasa negeri ini tidak pernah memberi mereka kesempatan.
Karena itu, pendidikan bukan hanya persoalan kurikulum. Pendidikan juga persoalan keteladanan.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak. Sebab kecerdasan tanpa moral dapat menjadi senjata. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi alat penipuan. Ilmu tanpa iman dapat digunakan untuk merusak kehidupan.
Hal yang sama berlaku terhadap alam.
Kita hidup di atas tanah yang tidak kita ciptakan. Menghirup udara yang tidak kita produksi. Meminum air yang tidak kita buat. Menikmati laut, hutan, gunung, dan sungai yang semuanya merupakan bagian dari ciptaan Allah.
Maka pembangunan tidak boleh hanya bertanya berapa besar keuntungan yang diperoleh hari ini.Acara Liburan & Musiman
Kita juga harus bertanya: Apa yang akan tersisa untuk anak cucu kita?
Jika sebuah industri menghasilkan keuntungan besar tetapi merusak sumber air masyarakat, apakah kita sedang membangun?
Jika kekayaan alam menghasilkan pendapatan tetapi membuat nelayan kehilangan ruang hidup, apakah itu kemajuan?
Jika hutan ditebang tanpa perhitungan dan generasi berikutnya menerima bencana sebagai warisan, apakah kita telah menjalankan amanah?
Manusia bukan pemilik mutlak bumi. Kita hanya sedang memegang titipan.
Jangan Menunggu Orang Lain
Mungkin kita terlalu sering menunggu perubahan dimulai dari orang lain.
Menunggu presiden. Menunggu menteri. Menunggu DPR. Menunggu gubernur. Menunggu bupati. Menunggu aparat.
Padahal sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan. Ia juga dibentuk oleh jutaan manusia yang menjalani kehidupan setiap hari.
Jika kita pejabat, jadilah pejabat yang amanah. Jika kita pengusaha, tunaikan hak pekerja dengan layak. Jika kita guru, tanamkan kejujuran. Jika kita pedagang, jangan curang. Jika kita jurnalis, jangan menjual kebenaran. Jika kita mahasiswa, gunakan ilmu untuk kemaslahatan. Jika kita orang tua, ajarkan anak bahwa keberhasilan tidak boleh dibeli dengan kebohongan. Dan jika kita hanya rakyat biasa, jangan merasa tidak memiliki peran.
Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana: seseorang memilih tidak berbuat curang ketika memiliki kesempatan untuk melakukannya, berkata jujur meskipun kebohongan lebih mudah, mengembalikan hak orang lain meskipun tidak ada yang mengetahui, dan menolong tanpa mengharapkan pujian.
Kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus itulah yang perlahan membentuk karakter sebuah masyarakat.
Maka ketika kita merayakan kemerdekaan, mungkin ada satu hal yang perlu kita bawa pulang selain rasa bangga: pertanyaan tentang diri sendiri.
Apa yang bisa saya lakukan agar Indonesia sedikit lebih baik karena saya pernah hidup di dalamnya?
Jika Suatu Hari Kita Ditanya
Bayangkan suatu hari nanti kita berdiri sendiri di hadapan Allah.
Di hadapan-Nya, tidak ada lagi bendera yang dikibarkan, jabatan yang dibanggakan, pangkat yang disandang, gelar yang disematkan, pengawal yang mengawal, ataupun kekuasaan yang dapat diandalkan.
Yang ada hanya seorang manusia dan Rabb-nya.
Pada hari itu, mungkin kita akan memahami sesuatu yang selama ini terlalu sering kita lupakan: hidup bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan posisi kita di hadapan Allah.
Jika pernah menjadi pemimpin, apakah kita adil?
Jika pernah memiliki kekayaan, apakah kita berbagi?
Jika pernah memiliki ilmu, apakah kita mengajarkannya?
Jika pernah memiliki kekuasaan, apakah kita menggunakannya untuk kebaikan?
Jika pernah memiliki kesempatan menolong, mengapa kita berpaling?
Dan jika pernah menjadi bagian dari bangsa besar bernama Indonesia: apa yang telah kita lakukan untuk menjaganya?
Mungkin itulah pertanyaan yang lebih penting pada usia 81 tahun Republik ini.
Bukan sekadar, “Sudah seberapa maju Indonesia?”
Melainkan: “Sudah seberapa amanah kita sebagai manusia Indonesia?”
Sebab Indonesia bukan hanya tanah yang kita pijak. Ia adalah tempat Allah memberi kita kesempatan untuk hidup, bekerja, mencintai, berbuat baik, dan meninggalkan amal.
Karena itu, jangan hanya wariskan gedung kepada anak cucu, wariskan kejujuran. Jangan hanya wariskan jalan dan jembatan, wariskan keadilan. Jangan hanya wariskan kekayaan alam, wariskan bumi yang masih layak dihuni.
Dan jangan hanya wariskan cerita tentang para pahlawan, tetapi wariskan pula keberanian mereka untuk berkorban demi sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Generasi terdahulu berjuang merebut kemerdekaan.
Generasi kita memiliki tugas yang berbeda: menjaganya agar tidak dirampas oleh keserakahan kita sendiri.
Untuk Anak yang Berangkat Sekolah Pagi Itu
Mungkin setelah seluruh perayaan kemerdekaan selesai, anak itu akan kembali berangkat sekolah dengan sepatu yang sama.
Solnya masih dijahit. Bagian depannya mungkin masih sedikit menganga.
Ia mungkin tidak tahu apa arti pertumbuhan ekonomi, ketimpangan, kebijakan publik, atau tata kelola pemerintahan. Ia mungkin belum memahami apa itu amanah kekuasaan dan bagaimana sebuah negara mengelola kekayaan yang dimilikinya.
Ia hanya tahu bahwa pagi itu ia harus bersekolah. Ia ingin belajar. Ia ingin tumbuh. Dan mungkin, seperti anak-anak lainnya, ia hanya ingin memiliki masa depan yang lebih baik daripada hari ini.
Di situlah sesungguhnya ukuran kemerdekaan kita menemukan wajahnya.
Bukan pada seberapa megah perayaan yang kita selenggarakan, melainkan pada apakah anak seperti dia kelak memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.
Apakah ketika dewasa nanti ia memperoleh pekerjaan yang layak?
Apakah keluarganya dapat hidup tanpa terus-menerus dihantui kekurangan?
Apakah ia dapat menikmati pendidikan yang baik?
Apakah ia akan tumbuh dalam negeri yang menghargai kejujuran dan menegakkan keadilan?
Dan ketika suatu hari ia memegang amanah, apakah ia akan menemukan contoh dari generasi kita tentang bagaimana amanah itu seharusnya dijalankan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya menentukan apakah kita benar-benar telah memaknai kemerdekaan.
Sebab keberhasilan sebuah generasi bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangunnya. Keberhasilan sebuah generasi juga diukur dari apa yang berani diwariskannya.
Kita telah menerima Indonesia dari mereka yang berjuang sebelum kita.
Kini giliran kita menentukan apakah negeri ini akan kita serahkan kepada anak cucu dalam keadaan yang lebih adil, lebih bersih, lebih manusiawi, dan lebih dekat kepada nilai-nilai kebaikan.
Maka ketika Merah Putih kembali berkibar di langit Nusantara, jangan hanya melihat dua warna.
Lihatlah sebuah amanah.
Ketika lagu kebangsaan berkumandang, jangan hanya rasakan kebanggaan.
Rasakan pula tanggung jawab.
Sebab negeri ini terlalu berharga untuk dijual kepada kepentingan pribadi, terlalu besar untuk dikuasai keserakahan, dan terlalu banyak darah yang telah tumpah untuk kita wariskan dalam keadaan yang lebih buruk.
Selamat ulang tahun, Indonesia.
Semoga Allah menjaga negeri ini, menjaga rakyatnya, menjaga para pemimpinnya, menjaga generasi mudanya, serta menjaga tanah dan lautnya.
Semoga Allah juga menjaga hati kita agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak amanah yang telah Dia titipkan.
Sebab kelak, ketika perayaan telah selesai, bendera telah diturunkan, dan semua suara kembali sunyi, kita masing-masing akan pulang membawa satu hal: amal.
Dan di hadapan Allah, tidak ada jabatan, pangkat, gelar, kekayaan, atau kekuasaan yang dapat membebaskan kita dari pertanggungjawaban atas amanah yang pernah kita genggam.
Mungkin itulah makna kemerdekaan yang paling dalam: bukan sekadar menjadi bangsa yang bebas, tetapi menjadi manusia yang mampu mempertanggungjawabkan kebebasan itu di hadapan Allah. Wallahu a’lam bishawab.
0 Komentar