matacelebes - Situasi ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, dan ancaman kekeringan akibat El Nino berdampak besar pada petani dan produksi pertanian. Penumpukan masalah ini mengindikasikan "situasi sedang tidak baik-baik saja" sehingga "pemerintah harus waspada" dan menyiapkan mitigasi tepat sasaran.
Seorang petani di Luwu Timur mengaku mulai merasakan dampak penumpukan masalah ini. Mereka merasakan kenaikan biaya produksi akibat melambungnya harga-harga bahan bakar, bibit, sampai pestisida.
Padahal hasil panen yang diperoleh tetap sama dibandingkan dengan musim tanam pada periode yang sama sebelumnya.
Memasuki musim kemarau dan ancaman kekeringan akibat El Nino, situasinya membuat mereka makin terdesak.
"Biaya produksi tinggi dengan hasil panen sama saja sudah berkurang pendapatan. Kalau panas berkepanjangan, luas lahan yang ditanam lebih sedikit. Tidak bicara untung," ucap Mustari, petani dari Desa Lumbewe, Kecamatan Burau Luwu Timur Sulawesi Selatan.
Puncak musim kemarau berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan 445 Zona Musim yang mengalami musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini.
"Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino masih berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80% dan mencatat adanya kemungkinan fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ucapnya.
"Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya," imbuhnya.
Langkah pemerintah dalam mengatasi ancaman kekeringan, nampak, dari Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Kementerian Pertanian melakukan antisipasi dengan memetakan wilayah kekeringan dan melakukan pemantauan rutin mengacu pada prediksi BMKG. Kemudian, pihaknya juga menyiapkan benih tahan kekeringan dan pemupukan berimbang.
"Kami juga lakukan rehabilitasi jaringan irigasi. Pembangunan embung, sumur bor, hingga pompanisasi. Untuk yang membutuhkan bantuan pompa ini, bisa melapor juga pada Dinas Pertanian setempat agar segera ditindaklanjuti nanti," kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi.
Dari data Kementan, rencana distribusi terkait pompa ini mencapai 94.813 unit di seluruh Indonesia. Ini terdiri dari irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, dan pompa air.
Kementan bekerjasama dengan Badan Pangan Nasional juga berupaya agar harga gabah kering berada pada angka Rp6.500 per kilogram. Diakui Agung, pengendalian harga merupakan hal yang penting di tengah masa seperti ini.
Berdasarkan data yang dimiliki, Agung menuturkan luas panen padi pada Maret 2026 turun sebesar 3,16% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
"Untuk April hingga Juni 2026, potensinya diperkirakan mencapai 3,16 juta hektar yang artinya turun sekitar 7,64% dibandingkan April hingga Juni 2025. Angka potensi ini dapat berubah sesuai kondisi lapangan," kata Agung.
Situasi penurunan luas panen ini juga terjadi pada komoditas jagung dan bawang merah. Akibatnya, sebagian komoditas mengalami kenaikan harga jual. Salah satunya bawang merah dan cabai merah.
Untuk harga beras di pasaran masih cenderung stabil tapi jika diamati tiap bulan dari data milik Kementerian Perdagangan, maka harganya terus naik perlahan. Bulan ini, harga beras medium sebesar Rp13.756 per kilogram dan beras premiun seharga Rp15.400 per kilogram.(**)
Redaksi
0 Komentar