Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Komoditas Baru, Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Andalan


Foto : Durian Musang King

Makassar - Pemerintah Provinsi Sulawesi selatan mulai Tahun ini menyiapkan 200 hektar kawasan pengembangan  buah durian melalui penyaluran bibit unggul senilai Rp1,7 miliar kepada kelompok tani di berbagai daerah, ini merupakan fondasi baru bagi komoditas holti kultura berorientasi ekspor.

Bibit yang dibagikan bukan sembarang varietas. Pemerintah hanya menyalurkan dua jenis durian premium, yakni Musang King dan Black Thorn (duri hitam), yang selama ini dikenal memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, Bustanul Arifin mengatakan pengembangan durian menjadi salah satu fokus pemerintah karena diarahkan untuk memenuhi pasar ekspor.

"Targetnya memang ekspor. Karena itu bibit yang kami bagikan adalah bibit unggul, yaitu Musang King dan Black Thorn. Varietas lain tidak kami rekomendasikan untuk program ini," kata Bustanul di Center Poin of Indonesia (CPI), Senin, 6 Juli 2026.

Ia menjelaskan pengembangan kawasan durian tersebut merupakan bagian dari sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat sektor pertanian, meningkatkan produktivitas, memperluas daya saing komoditas, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Selain durian, pemerintah juga menyalurkan bantuan pengembangan kawasan cabai seluas 115 hektare dengan nilai Rp1,2 miliar. Komoditas cabai dipilih karena menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

"Kementerian Pertanian saat ini fokus pada dua komoditas hortikultura. Durian untuk mendukung ekspor, sedangkan cabai untuk membantu mengendalikan inflasi. Karena itu kami menghimpun calon petani dan calon lokasi yang memang siap mengembangkan kedua komoditas tersebut," ujarnya.

Bustanul menjelaskan seluruh penerima bantuan ditetapkan melalui mekanisme berjenjang. Usulan berasal dari kabupaten dan kota melalui skema Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), kemudian diverifikasi pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebelum diajukan oleh Gubernur Sulsel kepada Kementerian Pertanian.

Ia menegaskan proses tersebut dilakukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan dimanfaatkan oleh petani yang memiliki lahan sesuai dengan karakteristik tanaman.

"Prinsipnya bantuan ini melalui proses verifikasi berlapis. Kami ingin memastikan bibit maupun bantuan lainnya benar-benar diterima oleh petani yang memenuhi persyaratan sehingga hasilnya optimal," katanya.

Tak hanya menyalurkan bantuan, Pemprov Sulsel juga akan mengawal pemanfaatannya hingga tahap monitoring dan evaluasi.

Pengawasan dilakukan bersama penyuluh pertanian sebagai ujung tombak di lapangan serta dinas pertanian kabupaten dan kota.

Kata Bustanul, pengawasan yang terintegrasi diperlukan agar bantuan, baik berupa bibit maupun alat dan mesin pertanian, dapat dimanfaatkan secara maksimal dan transparan.

"Fungsi provinsi adalah melakukan koordinasi dan pengawasan. Kami melibatkan penyuluh pertanian dan pemerintah kabupaten/kota agar penggunaan bantuan bisa berjalan transparan, terstruktur, dan memberikan manfaat bagi peningkatan produksi maupun pendapatan petani," jelasnya.

Menurutnya, pemerintah sengaja aktif mengajukan berbagai kebutuhan pertanian ke Kementerian Pertanian agar lebih banyak bantuan dapat mengalir ke Sulawesi Selatan.

"Karena ruang fiskal daerah terbatas, kami menjemput bola ke kementerian. Alhamdulillah banyak bantuan yang berhasil dibawa ke Sulawesi Selatan," kata Bustanul.

Pengembangan durian tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah lebih memilih memperluas sentra yang selama ini telah terbukti cocok untuk budidaya durian dibanding membuka kawasan baru yang belum teruji.

"Kami mencari daerah yang memang cocok. Tidak semua wilayah kami berikan bibit. Kalau di situ sudah ada durian yang tumbuh baik, lahan di sekitarnya kami kembangkan. Jangan sampai masyarakat menunggu tiga tahun, tetapi tanaman tidak berbuah karena lahannya tidak sesuai," ujarnya.

Ia berharap pengembangan komoditas unggulan tersebut semakin memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi daerah pemasok komoditas pertanian bernilai ekspor dari kawasan timur Indonesia.

Selain bibit hortikultura, Sulsel juga memperoleh bantuan benih padi untuk lahan seluas 142.920 hektare senilai Rp52,5 miliar dan benih jagung untuk 126.415 hektare senilai Rp104 miliar.

Di sektor perkebunan, pemerintah mengalokasikan bantuan kakao untuk 8.000 hektare senilai Rp74,2 miliar.

Sementara di bidang alat dan mesin pertanian disalurkan 50 unit combine harvester senilai Rp21,5 miliar, 150 unit traktor roda empat senilai Rp57 miliar, 100 unit traktor roda dua senilai Rp3,7 miliar, 300 unit pompa air senilai Rp7,2 miliar, serta 50 unit hand sprayer.(**)

Posting Komentar

0 Komentar