Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Puluhan Ribu Pekerja Tambang Terancam PHK, Solar Industri Tembus Rp.30 Ribu Perliter.


Foto : Operasional Alat berat di area Pertambangan

Jakarta - Lonjakan harga solar Industri yang tidak terkendali ditambah pemangkasan kuota produksi membuat perusahaan tambang kelimpungan menyeimbangkan neraca keuangan. Gelombang ancaman  Pemutusan Kerja (PHK) massal membayangi sektor Pertambangan Indonesia.

Biaya operasional perusahaan membengkak drastis menyusul penutupan jalur perdagangan minyak dan gas di Selat Hormuz. Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi, Ardhi Ishak Koesen mengungkapkan porsi bahan bakar kini menyedot hingga 40 persen dari total biaya penambangan.

"Harga solar industri saat ini sudah berkisar di atas Rp20.000, bahkan di daerah Indonesia Timur sudah mendekati Rp30.000," beber Ardhi, Senin (1/6/2026).

Ancaman PHK Puluhan Ribu Pekerja

Beban operasional yang melonjak ini datang di saat yang tidak tepat. Pemerintah baru saja memangkas kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 demi menjaga stabilitas harga komoditas global.

Ketua Dewan Penasihat Perhapi, Rizal Kasli merinci kuota produksi batu bara nasional dipangkas tajam dari realisasi tahun lalu 790 juta ton menjadi hanya 600 juta ton. Hilangnya 190 juta ton kuota ini langsung memukul arus kas mayoritas penambang, kecuali BUMN dan pemegang PKP2B.

Kombinasi maut antara pembatasan produksi dan meroketnya harga bahan bakar ini memicu rasionalisasi besar-besaran di lapangan. 
Perusahaan terpaksa mengurangi jam kerja alat berat demi menekan konsumsi solar industri.

Berdasarkan analisis Perhapi, kondisi sulit ini berpotensi memicu PHK massal yang menyasar 35.000 hingga 50.000 pekerja tambang di seluruh Indonesia. Langkah efisiensi ekstrem ini diprediksi akan memakan korban jiwa dari sisi tenaga kerja. 

Sumber: Bloombergtechnos.com

Posting Komentar

0 Komentar