Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Estimasi Kerugian Mencapai Puluhan Trilyun Akibat Polusi Plastik


Ilustrasi

Jakarta - World Economic Forum (WEF) memperkirakan kerugian jasa ekosistem laut akibat polusi plastik global mencapai 500 miliar - 2,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 8.868 triliun-Rp 44.340 per tahunnya. Studi mengungkap, hal itu dikarenakan 75–150 juta ton plastik  berada di lautan dunia.

"Polusi plastik menggerus sektor perikanan, pariwisata pesisir, produktivitas pertanian, serta kemampuan ekosistem seperti mangrove dalam menyerap karbon. 
Mangrove sendiri dapat menyimpan karbon empat kali lebih banyak per hektare dibandingkan hutan tropis," tulis WEF dalam laporannya.

Limbah plastik di lautan turut menjadi penyebab punahnya spesies hewan dan tumbuhan hingga ratusan kali lebih banyak dibandingkan faktor lainnya. WEF mencatat, produksi plastik tahunan melonjak dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton sejak 1950. Akan tetapi, hanya 10 persen di antaranya berhasil didaur ulang. 

"Setiap tahun, 130 juta ton limbah plastik mencemari udara, daratan, dan perairan dunia. Tanpa tindakan mendesak, jumlah tersebut dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2040, setara dengan membuang satu truk penuh plastik ke alam setiap detik," kata WEF. 

Plastik yang terjerat pada karang meningkatkan risiko penyakit dari 4 persen menjadi 89 persen. Peneliti menyebut, kondisi ini sangat berdampak karena terumbu karang berfungsi sebagai tempat pembibitan bagi 40 hingga 70 persen spesies ikan tangkap. 

Dilaporkan pula bahwa limbah plastik menyebabkan lebih dari 4.000 spesies, mulai dari zooplankton hingga paus terjerat atau menelannya. 

Cemaran pada hewan laut, mengakibatkan penyumbatan saluran pencernaan dan kematian pada spesies kunci seperti penyu yang merugikan pariwisata pesisir. 

Sampah plastik pun merusak jaring nelayan dan mengurangi jumlah tangkapan. Di Jakarta, misalnya, pendapatan nelayan berkurang 38 persen akibat biaya operasional tambahan yang dipicu oleh polusi plastik. 

Plastik merusak habitat seperti mencekik akar mangrove, meningkatkan risiko penyakit pada terumbu karang, dan mencemari lokasi peneluran penyu laut. 

Kontribusi Dunia Usaha Di sisi lain, WEF menilai dunia usaha menghadapi risiko yang kian rumit karena polusi plastik dan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati. 

Dalam Global Risks Report 2026, hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekosistem menempati posisi kedua sebagai risiko global paling serius dalam satu dekade mendatang.

"Kasus tuntutan hukum terhadap perusahaan yang berkaitan dengan polusi plastik diperkirakan dapat mencapai 100 miliar dollar AS per tahun pada 2030. Selain itu, penerapan skema tanggung jawab produsen yang diperluas secara wajib dapat menambah beban biaya hingga 100 miliar dolar AS lagi," papar WEF. 

Meski demikian, peluang ekonomi dari pengurangan polusi plastik sangat besar. Saat ini, 91 persen limbah plastik masih dibakar, ditimbun, atau dibuang begitu saja yang menyebabkan hilangnya nilai ekonomi sebesar 80-120 miliar dollar AS setiap tahun. 

Perusahaan yang menghabiskan 570 miliar dolar AS untuk memproduksi plastik sekali pakai berpotensi mengurangi hampir separuh polusi plastik pada 2040 dengan beralih ke kemasan guna ulang, sekaligus menciptakan 8,6 juta lapangan kerja. 
Sementara, desain produk yang lebih baik dapat meningkatkan proporsi plastik yang layak didaur ulang secara ekonomis dari 22 persen menjadi 54 persen. 

"Oleh karena itu, perusahaan di seluruh rantai nilai plastik mulai dari produsen, perusahaan pengemasan, hingga merek-merek konsumen yang bergantung pada plastik didorong untuk mengintegrasikan aspek keanekaragaman hayati ke dalam strategi inti perusahaan, mengungkapkan dampak yang terkait dengan plastik, serta memasukkan EPR dan keanekaragaman hayati ke dalam manajemen risiko mereka," beber WEF. 

Sumber: World Economic Forum



,

Posting Komentar

0 Komentar