Di sebuah lereng di Pulau Shikoku, Jepang bagian selatan, seorang lelaki tua berjalan pelan di antara rumpun padi dan semanggi putih. Dari kejauhan ladangnya tampak berantakan—rumput liar tumbuh bebas, jerami berserakan seperti tidak pernah dibereskan, dan pohon-pohon jeruk berdiri tanpa bentuk yang rapi.
Orang-orang yang datang pertama kali sering mengernyit. Mereka mengira pemilik ladang itu malas, atau mungkin sudah kalah oleh zaman. Namun lelaki itu justru sedang melawan zaman.
Namanya Masanobu Fukuoka. Di tangannya, sebatang jerami berubah menjadi semacam manifesto sunyi terhadap dunia modern yang sedang mabuk oleh mesin, pupuk kimia, dan janji produktivitas tanpa batas.
Pada abad ke-20, Jepang bergerak cepat seperti lokomotif yang tak mau berhenti. Setelah Restorasi Meiji, negeri itu membuka diri pada Barat dengan semangat nyaris religius. Segala sesuatu yang tradisional dianggap lambat, kuno, dan harus diganti.
Sawah-sawah yang selama ratusan tahun hidup mengikuti ritme musim mulai diukur dengan logika industri: berapa ton per hektar, berapa persen efisiensi, berapa cepat panen bisa dipercepat. Tanah diperlakukan seperti pabrik. Petani perlahan berubah menjadi operator produksi. Fukuoka menyaksikan perubahan itu bukan sebagai teori, melainkan sebagai luka yang nyata.
Ia lahir pada 1913, ketika Jepang masih menyimpan aroma desa dan ritual agraris yang kuat. Sebagai anak petani di Shikoku, ia tumbuh dekat dengan musim, hujan, lumpur sawah, dan suara serangga malam. Tetapi pendidikan membawanya masuk ke dunia ilmiah modern.
Di Kolese Pertanian Gifu, ia belajar patologi tumbuhan dengan disiplin akademik yang ketat. Setelah lulus pada 1933, ia bekerja sebagai mikrobiolog dan inspektur pertanian di Yokohama—sebuah kota pelabuhan yang kala itu menjadi simbol modernitas Jepang. Di sana ia melihat sesuatu yang mengusiknya diam-diam.
Kapal-kapal membawa bibit, bahan kimia, dan teknologi pertanian modern dari Barat. Laboratorium berkembang pesat. Ilmu pengetahuan dipuja sebagai penyelamat masa depan pangan manusia. Namun di balik optimisme itu, Fukuoka merasa manusia mulai kehilangan sesuatu yang tak kasatmata: rasa hormat kepada alam.
Ia pernah sampai pada kesimpulan yang terdengar sederhana, tetapi mengguncang seluruh fondasi ilmu modern yang dipelajarinya: manusia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang alam. Kalimat itu terdengar nyaris seperti pengakuan dosa.
Pada suatu malam yang dingin, setelah jatuh sakit dan mengalami krisis eksistensial di usia muda, Fukuoka berdiri memandangi embun di rerumputan. Di momen itulah ia merasa seluruh pengetahuan manusia mendadak runtuh.
Alam bekerja dengan caranya sendiri—sunyi, utuh, dan tidak membutuhkan kesombongan manusia untuk menjadi sempurna. Tak lama kemudian, ia meninggalkan pekerjaannya.
Keputusan itu membuat banyak orang menganggapnya gila. Jepang sedang bergerak menuju modernisasi besar-besaran, sementara seorang sarjana pertanian justru pulang kampung untuk menjadi petani desa.
Ketika kembali ke lahan keluarganya di Shikoku, ia mendapati tanah sudah letih. Hama menyerang, tanaman melemah, dan ekosistem sawah tidak lagi stabil. Ayahnya memandang ide-ide anaknya dengan campuran geli dan cemas.
“Kamu tidak bisa mengubah pertanian begitu saja,” kata ayahnya suatu hari.
Tetapi Fukuoka keras kepala. Ia mencoba membiarkan lahan bekerja sendiri, tanpa intervensi. Hasilnya buruk. Tanaman mati. Serangga datang lebih ganas. Ladangnya seperti eksperimen gagal.
Namun justru di situlah pelajaran pertamanya lahir: alam tidak bisa dipulihkan secara instan setelah dirusak begitu lama. Ia mulai memahami bahwa pertanian alami bukan soal “tidak melakukan apa-apa” secara sembarangan. Ia adalah proses memahami ulang hubungan manusia dengan tanah. Sementara itu, dunia bergerak ke arah sebaliknya.
Setelah Perang Dunia II, Revolusi Hijau menyebar seperti agama baru. Di Asia, termasuk Indonesia, negara-negara berkembang dijejali janji swasembada pangan.
Lembaga-lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization dan International Rice Research Institute datang membawa benih unggul, pupuk kimia, pestisida, dan bahasa pembangunan yang terdengar sangat meyakinkan.
Petani dijanjikan panen berlimpah. Dan memang, pada awalnya hasil meningkat. Tetapi seperti candu, modernisasi pertanian menyimpan harga yang dibayar diam-diam. Tanah mulai kehilangan unsur organiknya. Air tercemar residu kimia.
Benih-benih lokal menghilang perlahan, digantikan varietas hibrida yang harus dibeli terus-menerus. Petani yang dulu menyimpan benih sendiri kini bergantung pada perusahaan dan pasar.
Di banyak desa di Asia, perubahan itu tidak hanya mengubah cara bertani, tetapi juga mengubah cara manusia memandang hidup. Ritual sebelum tanam hilang. Lagu-lagu panen memudar. Anak-anak muda meninggalkan sawah karena pertanian tak lagi terasa sebagai bagian dari kebudayaan, melainkan sekadar pekerjaan kasar yang melelahkan.
Di Indonesia, Revolusi Hijau pernah dirayakan seperti kemenangan nasional. Negara memuji keberhasilan produksi beras, tetapi sedikit yang membicarakan bagaimana petani perlahan kehilangan kedaulatan atas tanah mereka sendiri. Sawah berubah menjadi ruang produksi komoditas. Petani menjadi buruh bagi sistem yang bahkan tidak mereka pahami sepenuhnya.
Fukuoka melihat semua itu dengan kesedihan yang tenang. Ia tidak berpidato dengan kemarahan revolusioner. Ia melawan dengan cara yang nyaris absurd: menebar jerami. Jerami, yang bagi pertanian modern dianggap limbah, justru menjadi pusat filosofi hidupnya.
Di ladangnya, setelah panen, jerami ditebarkan kembali ke tanah. Jerami menjaga kelembapan, memberi makan mikroorganisme, melindungi tanah dari matahari, dan perlahan terurai menjadi kesuburan baru.
Ia tidak membajak tanah karena percaya akar tanaman dan organisme kecil sudah bekerja lebih baik daripada mesin. Ia tidak membunuh gulma habis-habisan karena setiap tumbuhan memiliki fungsi dalam ekosistem. Sawahnya tampak liar, tetapi justru hidup.
Burung datang. Serangga kembali seimbang. Tanah menjadi gembur tanpa pupuk kimia. Dan yang paling membuat banyak ahli pertanian tercengang: hasil panennya mampu menyaingi pertanian modern. Di tengah dunia yang terobsesi pada teknologi, Fukuoka seperti mengajukan pertanyaan sederhana namun mematikan: bagaimana jika alam sebenarnya lebih pintar daripada manusia?
Bukunya, The One-Straw Revolution, kemudian menyebar ke berbagai negara. Orang-orang membacanya bukan hanya sebagai buku pertanian, tetapi seperti kitab kecil tentang cara hidup. Di dalamnya, Fukuoka tidak sekadar mengajari cara menanam padi. Ia sedang berbicara tentang kesombongan manusia modern.
Ia percaya bahwa akar krisis ekologis bukan terutama soal teknologi yang salah, melainkan cara pandang manusia yang merasa dirinya pusat semesta. Manusia modern ingin mengontrol semuanya: tanah, cuaca, benih, bahkan kehidupan itu sendiri. Padahal semakin besar usaha manusia mengendalikan alam, semakin besar pula kerusakan yang diciptakannya.
“Tujuan akhir bertani,” tulisnya suatu ketika, “bukanlah menghasilkan panen, melainkan menyempurnakan manusia.” Kalimat itu terasa nyaris mustahil di zaman sekarang, Sebab dunia hari ini bergerak dengan logika sebaliknya.
Hutan dihitung sebagai cadangan ekonomi. Sungai diperlakukan sebagai saluran industri. Tanah dilihat sebagai aset investasi. Bahkan makanan pun berubah menjadi angka statistik.
Di banyak tempat, manusia modern hidup sangat jauh dari sumber kehidupannya sendiri. Mereka makan nasi tanpa mengenal sawah. Minum kopi tanpa mengetahui siapa petani yang menanamnya. Segala sesuatu datang dari pasar dalam bentuk kemasan bersih, seolah pangan lahir dari rak supermarket, bukan dari tanah yang berkeringat.
Fukuoka menolak keterputusan itu. Di lereng Shikoku, ia memilih tetap hidup bersama musim. Ia percaya bahwa bertani adalah jalan spiritual—cara manusia belajar rendah hati di hadapan kehidupan.
Ketika ia meninggal pada Agustus 2008, usianya 95 tahun. Dunia saat itu sedang menghadapi krisis pangan global, perubahan iklim, dan kerusakan ekologis yang semakin nyata. Ironisnya, banyak gagasannya yang dulu dianggap utopis justru terasa semakin relevan.
Kini, ketika tanah-tanah pertanian di berbagai negara mulai kehilangan kesuburannya akibat eksploitasi panjang, ketika petani terlilit utang pupuk dan benih, dan ketika perubahan iklim membuat musim sulit diprediksi, sebatang jerami milik Fukuoka kembali berbicara pelan kepada dunia.
Bahwa mungkin manusia tidak membutuhkan lebih banyak mesin untuk menyelamatkan bumi. Mungkin yang dibutuhkan justru keberanian untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan belajar lagi kepada alam.
Toto Rahardjo
Pendiri Akademi Kebudayaan Yogyakarta.
0 Komentar