Negosiasi yang berlangsung di masa gencatan senjata perang AS, Isrewel - Iran sampai saat ini belum ada tanda tanda kesepakatan dan kemajuan yang berarti di Pakistan.
Tim negosiasi Iran bersikeras akan terus mempertahankan hak hak mereka dan menolak semua tuntutan AS yang tidak berpihak ke Iran.
Tuntutan AS agar Selat Hormuz dikelola bersama dan dibuka untuk umum, tuntutan 0% enrichment, tuntutan balistik, dan tuntutan pemindahan uranium Iran yang telah diperkaya ke luar negeri.
Tim negosiasi Iran bersikukuh, jika tuntutan Iran tidak dipenuhi, maka tim Iran akan meninggalkan Islamabad dan negosiasi dianggap selesai.
Iran juga menuntut pengangkatan sanksi internasional, pencairan lebih lanjut terhadap dana yang dibekukan AS di bank bank luar negeri, pembayaran kompensasi perang, hak memperkaya uranium, penguasaan terhadap Selat Hormuz yang berbayar, dan penghentian serangan Israel ke Lebanon dan semua faksi Proxi Iran termasuk HMS di Gaza.
Saat ini, Israel terus berupaya melakukan sabotase terhadap negosiasi ini, dengan terus menekan Trump dan tim negosiasi AS di Pakistan agar jangan mau memenuhi tuntutan Iran.
Bahkan ada hasutan di media seperti the new York Times, yang meneror tim negosiasi Iran di Pakistan, bahwa jika Iran menolak tuntutan AS, maka tim negosiasi Iran akan dibunuh.
Beberapa media Israel juga mengancam, bahwa jika Iran tidak menerima tuntutan permintaan AS di Pakistan, belum tentu pesawat tim negosiasi Iran bisa sampai di Tehran kembali.
Ini cara AS dan Israel untuk menekan tim negosiasi Iran agar menyerah di meja diplomasi, dengan perang urat saraf dan tekanan psikologis.
Tapi tim Iran tegas mengatakan, bahwa ancaman apapun terhadap tim negosiasi Iran tidak akan mempan, kami tidak takut dibunuh dan kami akan terus mempertahankan hak hak kami dimeja diplomasi. Statement dari Jubir Kemenlu Iran yang juga ikut dalam rombongan ke Pakistan.
Sedangkan IRGC mengirim pesan ke tim negosiasi Iran di Pakistan agar jangan pernah mau menyerah pada tekanan AS atau Israel, kepada pahlawan negosiasi bangsa Iran di Pakistan saat ini, percayalah penuh pada kekuatan militer IRGC dan bangsa Iran dan jangan pernah takut dalam perundingan. Sumber IRGC menyebutkan.
Kondisi di lapangan sangat fluid dan masih sangat tegang, keamanan terhadap tim negosiasi Iran diperketat oleh militer Pakistan, mengantisipasi adanya upaya sabotase pihak luar untuk menggagalkan negosiasi.
Ancaman terhadap tim negosiasi Iran adalah tanda frustasi AS dan Israel yang gagal memaksakan kehendak mereka terhadap tim negosiasi Iran sampai sejauh ini. Dan cara pengecut seperti ini adalah sangat biadab.
Kualitas negosiasi oleh AS saat menurun karena terlalu mau didikte oleh Israel, terlalu "Israel first" dan bukan atas dasar "American interest".
Trump di gedung putih juga mengklaim telah mengirim kapal ke selat Hormuz untuk membersihkan ranjau, klaim ini juga adalah palsu, IRGC menegaskan bahwa selat Hormuz saat ini sepenuhnya dibawah kendali IRGC, dan kapal apapun jenisnya yang lewat Selat Hormuz tanpa izin Iran akan segera dihancurkan tanpa aba aba lanjutan.
Peluang negosiasi ini gagal sangat besar, lebih besar dari peluang keberhasilan. Saat saat genting seperti ini sangat menentukan, apakah perang ini akan berhenti atau akan berlanjut dengan skala lebih besar.
Tekanan Israel terhadap Trump dan tim negosiasi AS di Pakistan terus berlanjut, sedangkan Iran bertekad akan Menolak tunduk dalam kondisi tekanan apapun ke AS.
Bagi Israel, negosiasi di Pakistan adalah nyawa mereka setelah mereka kalah perang di lapangan saat ini secara kasat mata, jika Iran mampu mempertahankan hak hak uranium, hak kedaulatan atas selat Hormuz, dan hak atas progam nuklirnya. Maka itu adalah poin bunuh diri langsung bagi Israel.
Facebook
Penulis:Tengku Zulkifli Usman
0 Komentar