Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Selat Hormus Jalur Strategis Ekonomi Teluk Persia, Al Ubullah Pelabuhan Tertua di Teluk Persia


  Foto: Selat Hormus

Dalam sejarah Persia, nama Al-Ubullah dan Selat Hormuz kerap muncul sebagai titik penting aktivitas perdagangan dan pelayaran, keduanya menjadi bagian dari jaringan besar yang menghubungkan dunia Islam dengan India hingga Cina sejak berabad-abad lalu.

Sejak era Dinasti Sassaniyah hingga masa kejayaan Islam, kawasan ini berkembang sebagai jalur distribusi komoditas bernilai tinggi seperti rempah, sutra, dan mutiara. 

Peran pelabuhan dan jalur laut di wilayah ini membentuk peradaban maritim yang kuat sekaligus menjadi penghubung antarbangsa.

Menariknya, nama Selat Hormuz kembali ramai dibahas hari ini seiring konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada jalur pelayaran global. 

Ketegangan tersebut bahkan memicu pembatasan hingga penutupan jalur strategis ini yang berdampak pada distribusi minyak dunia dan stabilitas ekonomi internasional.

Sejarah Al-Ubullah

Dijelaskan dalam jurnal Strategic Role of Al-Ubulla Port in Trading with Far East Countries during 257-311 AH/870-922 AD oleh Khaldoun Khalil Habashneh, Al Ubullah merupakan salah satu pelabuhan tertua dan paling strategis di kawasan Teluk Persia. 

Kota ini telah berdiri sejak abad ke-4 M dan berkembang sebagai pusat aktivitas pelayaran serta perdagangan maritim dunia.

Pada masa Dinasti Sassaniyah, Al-Ubullah berperan sebagai pelabuhan utama yang menghubungkan Mesopotamia dengan wilayah timur seperti India dan Cina. Jalur perdagangan ini telah aktif sejak awal Masehi dan melibatkan para pelaut dari kawasan Arab seperti Bahrain, Oman, dan Qatar.

Sejarawan Muslim seperti Al-Tabari menyebut Al-Ubullah sebagai "Farj al-Hind," yaitu pintu masuk bagi orang-orang dari wilayah Hindia. 

Sementara Al-Baladzuri mencatat bahwa pelabuhan ini menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Cina, India, dan kawasan Teluk saat awal ekspansi Islam.

Memasuki masa Islam, aktivitas perdagangan di Al-Ubullah semakin berkembang pesat seiring meningkatnya interaksi dagang melalui Samudera Hindia. 

Pelabuhan ini menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan global yang menghubungkan dunia Islam dengan Asia Timur.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Al-Ubullah berhasil ditaklukkan pada tahun 14 H/635 M melalui ekspedisi yang dipimpin oleh Al-Ala bin Al-Hadhrami. 

Penaklukan ini memperkuat posisi umat Islam dalam menguasai jalur strategis serta melemahkan pertahanan wilayah Sassaniyah.

Secara geografis, Al-Ubullah terletak di dekat muara Sungai Eufrat dan Tigris serta terhubung dengan Kota Basrah melalui jaringan kanal. Kanal-kanal ini memungkinkan distribusi barang dari kapal besar yang berlabuh di pelabuhan menuju pusat perdagangan di daratan.

Pada masa Daulah Abbasiyah, Al-Ubullah mencapai puncak kejayaannya sebagai kota pelabuhan yang ramai dan kosmopolitan. Dari kota ini, berbagai komoditas seperti rempah, sutra, dan barang mewah diperdagangkan, menjadikannya salah satu pusat pelayaran dan perdagangan maritim terpenting di dunia Islam.

Sejarah Selat Hormuz

Dijelaskan dalam artikel jurnal berjudul Struggle for the Strait of Hormuz oleh Stefan C. A. Halikowski, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan sejak awal menjadi pusat perdagangan penting. Pada abad ke-16, wilayah ini diperebutkan oleh Kesultanan Utsmaniyah dan Kekaisaran Portugis yang ingin menguasai jalur dagang tersebut.

Setelah menguasai Goa pada 1510, Portugis di bawah Afonso de Albuquerque mulai membangun dominasi perdagangan di Samudra Hindia. Mereka kemudian merebut Hormuz pada 1515 untuk mengontrol pintu masuk ke Teluk Persia.

Ambisi tersebut memicu konflik dengan Kesultanan Utsmaniyah yang juga ingin menguasai perdagangan regional setelah memperluas kekuasaan hingga Basra. Pada 1552, Piri Reis memimpin ekspedisi besar, namun gagal mempertahankan Hormuz meski sempat menyerang wilayah sekitarnya.

Upaya lanjutan oleh Murad Reis dan Seydi Ali Reis juga tidak berhasil karena perlawanan kuat Portugis. Hingga pertengahan abad ke-16, Portugis tetap mempertahankan dominasi mereka di Selat Hormuz.

Memasuki abad ke-17, dominasi Portugis runtuh setelah intervensi VOC dan Inggris yang bersekutu dengan Kekaisaran Safawi. Setelah itu, pengaruh kolonial Eropa bergeser, namun Selat Hormuz tetap menjadi jalur perdagangan penting di kawasan.

Pada era modern, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi energi global, terutama minyak dari Timur Tengah. Hingga kini, wilayah ini tetap menjadi titik strategis dunia karena perannya dalam perdagangan internasional dan geopolitik global yang melibatkan negara seperti Iran.

Perbedaan Al-Ubullah dan Selat Hormuz

Bedanya Al-Ubullah dan Selat Hormuz terletak pada bentuk dan fungsinya dalam sejarah maritim. Al-Ubullah adalah kota pelabuhan yang menjadi titik bongkar muat perdagangan, sedangkan Selat Hormuz merupakan jalur laut yang menjadi lintasan utama kapal-kapal internasional.

Secara geografis, Al-Ubullah berada di wilayah Mesopotamia dekat muara Sungai Eufrat dan Tigris, yang terhubung ke daratan dan pusat peradaban. Sementara itu, Selat Hormuz terletak di pintu keluar Teluk Persia menuju laut lepas, menjadikannya jalur transit strategis antarwilayah.

Meski berbeda, keduanya memiliki hubungan erat dalam jaringan perdagangan maritim kuno. Kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz biasanya akan melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan seperti Al-Ubullah untuk mendistribusikan barang ke wilayah pedalaman.

Dengan demikian, Selat Hormuz dapat dipahami sebagai jalur masuk utama, sementara Al-Ubullah berfungsi sebagai titik tujuan dan distribusi perdagangan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk sistem perdagangan yang menghubungkan dunia Islam dengan kawasan global sejak berabad-abad lalu.(**)

matacelebes

Posting Komentar

0 Komentar