Dunia kembali menyaksikan drama kemunafikan yang dipertontonkan di atas panggung Timur Tengah. Setelah Israel dengan angkuh membombardir Lebanon melalui "Operasi Kegelapan Abadi" yang menargetkan warga sipil di Beirut, Iran akhirnya memberikan jawaban yang tidak sekadar kata-kata.
Fasilitas nuklir Israel yang selama ini dianggap tak tersentuh dan dilindungi oleh perisai canggih akhirnya merasakan panasnya rudal-rudal Teheran.
Namun, yang lebih menarik dari ledakan di fasilitas nuklir tersebut adalah "keheningan" yang memekakkan telinga dari para tetangga sebelah.
Wahabi-Salafi: Antara Fatwa dan Ketaatan pada Tuannya.
Di saat Lebanon membara dan fasilitas nuklir zionis berguncang, di mana suara para pemegang otoritas "pemurnian agama" yang biasanya sangat vokal mengharamkan ini-itu?
Ke mana perginya semangat al-wala wal-bara (loyalitas dan berlepas diri) yang sering mereka gembor-gemborkan?
Tampaknya, fatwa mereka hanya tajam jika berurusan dengan celana di atas mata kaki atau menyesat-nyesatkan sesama Muslim yang berbeda mazhab.
Begitu berhadapan dengan Israel dan Amerika, lidah mereka seolah kelu.
Mereka lebih memilih sibuk menjaga kenyamanan takhta dan memastikan pasokan hiburan dari Barat tetap lancar di tanah suci, ketimbang membela martabat umat.
Inilah wajah asli "Salafi Politis" singa di mimbar melawan saudara sendiri, namun menjadi domba penurut di depan meja diplomasi Washington.
Amerika & Israel: Pasangan Haram Pengacau Dunia
Amerika Serikat, sang "Polisi Dunia" yang tak pernah pensiun dari standar gandanya, kembali menunjukkan wajah aslinya. Mereka merengek soal hak pertahanan diri Israel saat fasilitas nuklir zionis dihantam, namun bungkam seribu bahasa saat jet-jet Israel meratakan pemukiman di Lebanon.
Bagi Washington, darah rakyat Lebanon hanyalah statistik, sedangkan keamanan nuklir Israel adalah "wahyu" yang tak boleh diganggu gugat.
Mereka lupa bahwa Iran di tahun 2026 bukan lagi Iran yang bisa digertak dengan retorika usang.
Serangan balik ini adalah pesan jelas: Era di mana kalian bisa memukul tanpa dipukul balik sudah berakhir.
Kesimpulan: Siapa yang Benar-Benar Membela?
Sejarah akan mencatat dengan tinta emas dan jelaga hitam. Ia mencatat siapa yang berani mengambil risiko demi melawan penindasan zionis, dan siapa yang hanya bisa duduk manis sembari menyesap kopi di bawah ketiak Paman Sam.
Jika fasilitas nuklir Israel bisa ditembus, maka narasi "tak terkalahkan" yang selama ini dijual Amerika hanyalah omong kosong belaka.
Dan bagi mereka yang masih sibuk dengan urusan khilafiyah di tengah pembantaian saudara di Lebanon, mungkin sudah saatnya bertanya pada cermin: Kalian ini membela agama, atau membela agenda penguasa yang disetir dari Tel Aviv?
Penulis: Suara Rakyat yang Muak dengan Standar Ganda
0 Komentar