Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Pesawat Tempur Tertembak Jatuh di Zona Perang, Crew Pesawat Harus Mampu Menghindar Tanpa Terdeksi


Iran berhasil menembak jatuh dua pesawat militer Amerika Serikat (AS) dalam serangan terpisah. Satu anggota militer dilaporkan berhasil diselamatkan dan setidaknya satu lainnya hilang. 
Ini adalah kali pertama pesawat AS ditembak jatuh dalam perang AS-Israel oleh Iran.

Pesawat F-15E adalah pesawat tempur Amerika pertama yang ditembak jatuh oleh Iran dalam perang lima minggu tersebut, dan seorang awaknya hilang. 
Pesawat tempur AS kedua jatuh di wilayah Teluk dan pilotnya berhasil diselamatkan, kata para pejabat AS.

Menurut para pejabat, pada hari Jumat pasukan AS sedang mencari seorang pilot Amerika yang melompat keluar dari jet tempur di atas Iran selama penembakan jatuh pesawat tempur AS pertama oleh Teheran. 

The New York Times melaporkan bahwa militer Iran juga mencari warga Amerika yang hilang dari pesawat yang hancur, sebuah F-15E Strike Eagle, menurut tiga pejabat Iran yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas operasi militer. 

Para pejabat tersebut mengatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menutup area di barat daya Kohgiluyeh dan Provinsi Boyer-Ahmad, tempat mereka meyakini penerbang itu jatuh.

Lantas, apa yang terjadi pada pesawat militer AS dan kru pesawat setelah jet tempur ditembak jatuh di zona perang?
Ketika pesawat militer AS jatuh di wilayah perang, penanganannya bukan dilakukan secara sembarangan. 

Semua sudah diatur dengan sangat rapi dan penuh risiko tinggi, dengan tujuan menyelamatkan pilot, melindungi teknologi rahasia, dan mencegah pihak lawan mendapatkan keuntungan intelijen atau propaganda.

Dilansir laman New York Post, militer memiliki panduan khusus yang disebut Publikasi Bersama Pemulihan Personel (Personnel Recovery Joint Publication), yang berfokus pada dua prioritas utama: menyelamatkan pilot dan melindungi sistem rahasia.

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa nyawa personel sangat penting. Selain itu, musuh sering memanfaatkan tawanan untuk mendapatkan informasi, propaganda, atau sebagai alat negosiasi.

Prioritas pertama: Menyelamatkan pilot

Begitu pesawat ditembak jatuh atau mengalami kecelakaan di wilayah musuh, tim pencarian dan penyelamatan bisa langsung bergerak dalam hitungan menit. Biasanya mereka sudah siap di lokasi tertentu untuk merespons dengan cepat.

Operasi ini sangat kompleks, yakni menyelamatkan personel, menjaga rahasia, dan mengatasi situasi berbahaya di wilayah musuh.

Jika pilot berhasil melontarkan diri (eject) dan selamat, mereka sudah dilatih untuk menghindari penangkapan. Mereka menggunakan teknik bertahan hidup seperti bersembunyi, berkomunikasi dengan pasukan sekutu, dan bergerak tanpa terdeteksi.

Komandan militer sudah merencanakan semuanya sebelumnya—mulai dari pelatihan personel, kesiapan tim penyelamat, hingga prosedur cepat untuk mencegah kematian, penangkapan, atau penyalahgunaan oleh musuh.

Unit-unit elit seperti tim khusus Air Force Pararescue, Navy SEALs atau Army yang sering ditugaskan. Mereka biasanya dikawal oleh helikopter bersenjata dan jet tempur untuk perlindungan dan dukungan serangan.

Dalam beberapa kasus, drone, satelit, dan pesawat pengintai digunakan untuk melacak posisi pilot secara hampir real-time.

Jika memungkinkan, militer akan segera menuju lokasi jatuhnya pesawat untuk mengamankan teknologi penting seperti radar canggih, sistem komunikasi, atau senjata agar tidak jatuh ke tangan musuh. 

Itu bisa berarti pengerahan pasukan darat untuk menjaga atau memulihkan bagian-bagian pesawat.

Jika tidak bisa diambil, militer bisa mengambil tindakan ekstrem untuk memastikan teknologi tersebut tidak bisa dipelajari atau dibongkar oleh musuh.

Berpacu Melawan Waktu

Jika lokasi jatuhnya pesawat tidak bisa diamankan, militer bisa menghancurkan puing-puing pesawat dari udara agar tidak bisa digunakan atau dianalisis oleh musuh.

Serangan udara, rudal, atau drone dapat digunakan untuk menghancurkan bagian penting pesawat. Tujuannya bukan hanya menjaga rahasia, tetapi juga mencegah musuh memanfaatkan kejadian ini untuk propaganda atau intelijen.

Pesawat yang jatuh bisa menjadi "harta karun" bagi intelijen jika tidak dihancurkan. Karena itu, musuh juga sering berlomba-lomba menuju lokasi jatuhnya pesawat untuk mendapatkan teknologi atau bahkan menangkap pilot.

Jika pilot tertangkap, mereka bisa dipaksa memberikan informasi rahasia. Karena itu, militer AS berusaha bergerak secepat mungkin.

Setiap kejadian pesawat jatuh bisa memicu konflik yang lebih besar. Jika pilot ditangkap, hal itu dapat memicu krisis diplomatik, negosiasi tahanan, atau bahkan lebih buruk. 

Foto puing-puing atau personel yang ditangkap juga dapat dimanfaatkan sebagai senjata propaganda.

Pilot Sudah Dilatih untuk Situasi ini

Pilot tidak hanya berharap diselamatkan—mereka sudah dilatih sejak awal. Melalui pelatihan Bertahan Hidup, Menghindar, Bertahan, dan Melarikan Diri (Survival, Evasion, Resistance and Escape/SERE)

Awak pesawat belajar cara bersembunyi, bergerak tanpa terdeteksi, dan bertahan hidup di wilayah musuh. 
Tujuan utamanya sederhana: jangan sampai tertangkap dan tetap hidup.

Mereka juga diajarkan cara menghindari deteksi, memberi sinyal ke tim penyelamat, dan mengambil keputusan cepat dalam kondisi tekanan tinggi.

Walaupun kejadian pesawat jatuh jarang terjadi, pelatihan ini bisa menyelamatkan nyawa. Contohnya pada tahun 2012, helikopter militer AS jatuh di Afghanistan timur, dan kedua pilot berhasil diselamatkan meskipun ada pasukan Taliban di sekitar lokasi.
Nationalgeographic.co.id

Posting Komentar

0 Komentar