Jakarta - El Nino variasi kuat atau Godzilla El Nino diprediksi akan datang melanda Indonesia mulai April 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi Godzilla El Nino akan diikuti oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia.
Kombinasi kedua anomali iklim tersebut memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan dengan kondisi normal.
Sejumlah model global menunjukkan ancaman pengurangan curah hujan yang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi hingga Oktober 2026.
"Godzilla El Nino + IOD Positif kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia,” jelas BRIN di akun Instagram resminya, dikutip pada Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan data prediksi BRIN, kemarau kering akan melanda sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) pada periode April - Juli 2026. Kondisi ini dipicu oleh konsentrasi pembentukan awan hujan yang hanya berpusat di atas Samudra Pasifik ekuator.
Sebaliknya, wilayah Indonesia justru akan mengalami defisit awan dan curah hujan karena uap air tertarik ke pusat tekanan rendah di Pasifik.
Fenomena IOD positif juga menyebabkan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa yang akan menghambat turunnya hujan.
Namun, bagian utara dari kedua pulau besar tersebut diperkirakan tetap akan mengalami curah hujan yang relatif tinggi.
Meski demikian, fenomena kemarau panjang ini dipandang sebagai momentum untuk mengoptimalkan produksi garam nasional, khususnya di wilayah selatan Indonesia.
Langkah ini dinilai strategis untuk mengejar target swasembada garam sepanjang periode tahun 2026–2027. Optimalisasi produksi garam diharapkan mampu memanfaatkan kondisi cuaca yang minim hujan untuk mempercepat proses kristalisasi di tambak.
Potensi ekonomi ini menjadi salah satu upaya mitigasi dampak negatif anomali iklim terhadap sektor primer lainnya.
"Karena itu mitigasi pemerintah sebaiknya mempertimbangkan untuk mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada garam selama tahun 2026-2027 khususnya di wilayah selatan Indonesia," kata BRIN.
Pihaknya juga mengimbau pemerintah mewaspadai ancaman kekeringan ekstrem di wilayah selatan Indonesia yang berpotensi mengganggu stabilitas pangan nasional.
Sektor pertanian di lumbung padi, khususnya kawasan Pantura Jawa, menghadapi risiko gangguan produksi akibat kurangnya pasokan air irigasi.
Meski wilayah selatan dilanda kekeringan, BRIN mencatat adanya potensi banjir di wilayah timur laut Indonesia karena curah hujan tetap tinggi.
Wilayah Sulawesi, Maluku, hingga Halmahera diprediksi masih akan mengalami intensitas hujan yang masif selama periode kemarau.
matacelebes
0 Komentar