Cahaya pagi menembus sela-sela bukit yang mengelilingi Desa Buton, Pulau Obi, Halmahera Selatan,Provinsi Maluku Utara. Kilau cahaya itu jatuh ke hamparan sawah yang menguning, memantul di gabah kering yang masih tergeletak di pematang.
Di tengah landskap yang tenang itu, Darwan Aduhasan (33 tahun), petani padi dan hortikultura berdiri memandang lahan kelolaan kelompok taninya. Sebuah pemandangan yang kontras dengan citra Pulau Obi yang identik sebagai episentrum hilirisasi nikel nasional.
"Percaya ga percaya. Namun yang terjadi di sini memang unik. Industri tambang dan pertanian rakyat bisa berjalan beriringan. Bahkan saling mendukung," ungkap Darwan.
Darwan bukan petani biasa. Dia adalah salah satu penggerak pertanian di desa tersebut. Mengorganisir petani lokal melalui Kelompok Tani Pelangi dan mengajak generasi muda kembali melihat pertanian sebagai sumber penghidupan yang layak.
Bagi Darwan, dia tidak melihat industri tambang yang menggeliat di kampung halamannya sebagai ancaman. Namun justru membuka peluang. Tekad dan visinya memajukan pertanian Obi pun disambut Harita Nickel, perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Potensi pertanian di wilayah ini sangat besar. Saya yakin pertanian dapat menghidupi masyarakat termasuk memenuhi kebutuhan pangan warga serta perusahaan,” ujar dia.
Gayung bersambut, melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bidang pertanian Harita Nickel, tahun 2022 Darwan dan kelompok taninya mendapat dukungan pengembangan kapasitas dan produktivitas lahan, termasuk belajar pertanian berkelanjutan berbasis organik.
Sedangkan untuk komoditas, pertanian difokuskan pada dua macam; padi dan semangka karena tingginya permintaannya. Akhirnya, pada Januari 2026 silam, mereka menuai hasil yang luar biasa.
Produktivitas petani Desa Buton menembus 5 ton gabah kering per hektar dari sebelumnya 1 ton. Sedangkan untuk komoditas semangka, menembus 8 ton panen. Semangkanya pun yang biasa, namun organik.
Kolaborasi kemudian berkembang melalui pembentukan koperasi petani dan pendampingan manajemen. Hasil panen tidak hanya terserap di pasar lokal, tetapi juga dipasok untuk kebutuhan katering perusahaan yang melayani lebih dari 25 ribu karyawan.
“Permintaan komoditas pertanian sangat tinggi. Artinya peluang pasar itu ada dan nyata,” tambah dia.
Bagi Darwan dan kelompok taninya, pendampingan PPM Pertanian Harita Nickel yang mereka ikuti beberapa tahun terakhir mengubah cara pandang mereka terhadap industri tambang di Pulau Obi bahwa dua sektor ini dapat saling mengisi menciptakan peluang ekonomi.
Tidak hanya pada wawasan dan produktivitas petani, namun juga membuka peluang ekonomi dan memenuhi kebutuhan industri.
Merangkul generasi muda
Kini, fokus Darwan tidak hanya pada peningkatan produksi, namun pada keberlanjutan. Khususnya regenerasi petani. Dia tengah aktif mengajak anak-anak muda Desa Buton dan sekitarnya untuk kembali melihat pertanian sebagai pilihan masa depan yang realistis dan bermartabat.
Melalui inisiatif Kelompok Tani Milenial yang Darwan kawal dan penguatan Program Sentani (Sentra Ketahanan Pangan Obi), dia menargetkan semakin banyak generasi muda yang mau menjadi petani sawah dan hortikultura.
“Harapan kami, semakin banyak generasi muda memahami kalau pertanian dapat menghidupi,” ujar Darwan
matacelebes
0 Komentar