Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Puasa Ramadan membina karakter, Madrasah Integritas


          Ilustrasi
*Percikan Spiritual
Salah satu keistimewaan ibadah puasa adalah tidak nampak dan bisa dilakukan meski dalam keadaan tidur. Hal ini tentu berbeda dengan salat dan ibadah lainnya. Maka integritas menjadi kunci ibadah puasa.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto pada Selasa (17/2) di Masjid KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Sesungguhnya ketika melaksanakan puasa, apakah kita sedang betul-betul berpuasa atau kita sesungguhnya sudah berbuka?. Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah SWT,” katanya.

Oleh karena itu, menurutnya Puasa Ramadan menjadi madrasah pembina karakter diri yang luar biasa, khususnya mendidik tentang integritas. Sebab tidak terlihat, orang berpuasa sesungguhnya tidak mengharapkan pujian orang lain.

Segala bentuk ibadah, terlebih puasa seyogyanya bertujuan hanya satu yaitu untuk mengharapkan rida Allah SWT. Tidak meminta ke yang lain, serta menjaga diri dalam sunyi untuk membuktikan integritas sebagai hamba yang bertakwa.

“Ini integritas yang kalau dalam trikotomi – iman, islam, dan ihsan, ini barangkali masuk dalam kategori ihsan,” imbuh Agung.

Ibadah puasa menurutnya selain melatih integritas sekaligus melatih kejujuran, keduanya dilatihkan kepada seluruh orang yang beragama Islam atau seluruh orang yang beriman.

Namun demikian, masih ada pertanyaan yang mengganjal bagi muslim Indonesia, yakni meskipun melaksanakan ibadah puasa sejak kecil namun perbuatan-perbuatan buruk masih saja terjadi, seperti korupsi.

“Padahal mestinya orang yang berpuasa Ramadan itu mampu untuk membedakan mana yang al haq dan mana yang batil. Orang yang berpuasa, orang yang memiliki integritas, dia akan selalu pro, cenderung, condong ikut mendukung pada hal-hal yang sifatnya kebaikan,” ungkap Agung.

Agung menegaskan, jika ada orang Islam tidak pro atau memiliki kecondongan kepada kebatilan, maka secara langsung keislamannya sudah sangat layak untuk dipertanyakan.

Oleh karena itu, Agung Danarto berharap Puasa Ramadan sebagai madrasah integritas yang berimplikasi pada pada perbaikan sosial, budaya, ekonomi, politik, pendidikan, dan seterusnya.

MUHAMMADIYAH.OR.ID

Posting Komentar

0 Komentar