Makassar - LSM Mata air adalah Lembaga peduli Lingkungan yang cukup aktif, turut berperan melestarikan lingkungan,Konservasi Sumber Daya melalui advokasi kebijakan dalam menyikapi tantangan dan ancaman serta pola hidup masyarakat agar lingkungan dapat terjaga kelestariannya.
Ketua LSM Mata air Candra Tom menghimbau kepada semua pihak untuk tetap memperhatikan kesinambungan lingkungan karena adanya potensi peningkatan sampah plastik saat bulan Ramadhan pada kisaran 20-30 persen.
Candra Tom mengatakan Kota Makassar berada pada fase krusial dengan perilaku warga yang belum berubah dan sistem pengelolaan sampah yang masih jauh dari optimal.
"Yang utama itu adalah perubahan perilaku dan sikap, perilaku warga belum berubah dan sistem pengelolaan sampah yang masih jauh dari optimal, sehingga kita semua harus waspada peningkatan sampah ini," katanya
Data komunitas lingkungan yang dihimpun hingga Februari 2026, kata dia, sejumlah titik rawan menunjukkan kenaikan volume sampah, terutama plastik.
Sementara itu tingkat pemilahan rumah tangga, menurutnya, tercatat masih rendah yaitu hanya berkisar 10–15 persen.
Pada momen Ramadhan, Candra Tom memperingatkan adanya peningkatan khusus pada sampah kemasan dan sisa makanan. 28/02/2026
“Setiap tahun polanya sama, pasar takjil melonjak, konsumsi meningkat, dan sampah bertambah 20–30 persen. Jika tidak ada intervensi perilaku, beban kota akan berlipat,” ucapnya.
Ia juga menyoroti berkurangnya ruang hijau dan meningkatnya suhu permukaan akibat pulau panas perkotaan (urban heat island). Kondisi ini disebut memperparah tekanan ekologis, terutama di kawasan padat penduduk.
“Ramadhan seharusnya jadi momentum pengendalian diri. Jika kita gagal memanfaatkannya, kita akan kembali masuk pada siklus krisis sampah yang berlarut larut,” ucapnya
Oleh karena itu LSM Mata air mendorong pemerintah memperkuat pengawasan, meningkatkan fasilitas pemilahan, dan menggandeng dunia usaha.
"Inti persoalan tetap berada pada sikap dan perilaku warga. Ramadhan mengirim pesan , yaitu kota ini butuh aksi nyata, bukan slogan,” cetusnya.
Redaksi.

0 Komentar