Di bawah todongan bayonet dan siksaan serdadu NICA, ia tak sekalipun luruh. Opu Daeng Risadju memilih kehilangan pendengaran dan gelar bangsawan ketimbang mengkhianati republik yang baru seumur jagung.
Pagi di Palopo, 1946. Udara Sulawesi Selatan yang biasanya hangat mendadak anyir oleh bau mesiu dan ketakutan. Di sebuah sel sempit yang pengap, seorang perempuan paruh baya duduk bersimpuh. Namanya Famajjah, namun sejarah lebih mengenalnya dengan gelar kebesaran yang ia tanggalkan demi rakyat: Opu Daeng Risadju.
Bagi serdadu NICA (Netherlands Indies Civil Administration), perempuan ini adalah "racun". Bagi rakyat Luwu, ia adalah nyawa perlawanan.
DIPLOMASI DI ATAS SAJADAH
Keberanian Opu tidak lahir dari sekolah militer, melainkan dari kegelisahan melihat tanah kelahirannya diinjak-injak. Sejak mendirikan cabang Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Palopo pada 1930, ia menjadi ancaman serius bagi kolonial. Mengapa? Karena ia memadukan ideologi kebangsaan dengan syariat Islam, sebuah ramuan yang membuat Belanda gerah.
Pemerintah kolonial tidak tinggal diam. Ia didesak melepaskan kegiatan politiknya. Pilihannya hanya dua: tetap berpolitik dan gelar bangsawannya dicopot, atau berhenti dan hidup tenang di istana. Dengan dagu tegak, Opu menjawab: "Kalau hanya karena gelar kebangsawanan saya dilarang berjuang, cabutlah gelar itu!"
NERAKA DI TANGAN NICA
Puncak penderitaan Opu terjadi pasca-proklamasi. Saat Belanda kembali mencoba menancapkan kuku di Sulawesi melalui NICA, Opu yang sudah berusia lanjut turun ke hutan-hutan untuk menggerakkan pemuda melakukan perlawanan bersenjata.
Namun, pengkhianatan menghentikan langkahnya. Ia ditangkap di Latowu. Di sinilah kisah pilu sekaligus agung itu bermula. Oleh tentara NICA, Opu tidak diperlakukan sebagai tawanan perang, melainkan sebagai binatang buruan.
Ia dipaksa berjalan kaki puluhan kilometer dari Bone-Bone menuju Palopo di bawah terik matahari. Tak ada ampun bagi raga yang sudah renta itu. Setibanya di penjara, penyiksaan fisik menjadi menu harian. Seorang kepala polisi setempat yang pro-Belanda, memerintahkannya untuk berdiri tegak di lapangan terbuka. Di depan para serdadu, telinga Opu ditembakkan senjata api tepat di samping lubang telinganya.
Ledakan itu menghancurkan gendang telinganya seketika. Darah mengucur, dunia menjadi sunyi bagi Opu. Sejak saat itu, hingga akhir hayatnya pada 1964, Sang Singa Betina dari Luwu ini mengalami tuli permanen. Tidak hanya itu, ia seringkali dipaksa melakukan kerja rodi yang melampaui batas kemampuannya, dijemur, dan dibiarkan tanpa asupan yang layak.
MENOLAK PADAM DALAM KESUNYIAN
Meski fisiknya dihancurkan dan dunianya menjadi senyap tanpa suara, nyali Opu Daeng Risadju tidak pernah padam. Di dalam penjara, ia tetap menjadi simbol bahwa kedaulatan tidak bisa dibeli dengan rasa sakit.
Ia adalah bukti hidup bahwa perlawanan tidak selalu berupa dentuman meriam, tapi juga keteguhan prinsip yang tidak bisa ditembus peluru. Gelar Pahlawan Nasional yang disematkan kepadanya pada tahun 2006 hanyalah sebuah pengakuan formal, sebab sejatinya, nama Opu Daeng Risadju telah terpahat di dinding-dinding gua perjuangan rakyat Sulawesi selamanya.
Hari ini, saat kita menghirup udara kebebasan, ingatlah pada sunyinya dunia Opu. Sunyi yang ia pilih agar anak cucunya bisa mendengar riuhnya sorak kemerdekaan.
Sejarah Perjuangan Opu Daeng Risadju: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

0 Komentar