Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Megalitikum, adalah warisan budaya yang masih bisa di amati hingga saat ini


Ilustrasi patung megalitik lembah bada,Sulawesi tengah
    
Megalitikum adalah bentuk warisan budaya yang ditandai oleh penggunaan batu berukuran besar yang disusun atau dipahat untuk tujuan tertentu, seperti lambang kepercayaan, penanda struktur sosial, maupun sarana pelaksanaan ritual. 

Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk wilayah di Indonesia yang masih menyimpan tinggalan megalitik yang dapat diamati hingga saat ini. Keberadaan situs-situs tersebut tidak hanya penting dari sisi arkeologi, tetapi juga mencerminkan keberlanjutan tradisi masyarakat dari masa prasejarah hingga kehidupan modern.

Di Sulawesi, peninggalan megalitik ditemukan di berbagai daerah, antara lain Poso, Wajo, dan Sigi. Ragam tinggalan seperti menhir, dolmen, dan batu berornamen menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki sistem kepercayaan serta tatanan sosial yang berkembang.

 Sementara itu, di NTT terutama di Pulau Flores dan Sumba, situs megalitik masih memainkan peran aktif dalam kehidupan adat. Lokasi seperti Desa Bena, Desa Todo, dan Batu Termanu hingga kini tetap digunakan dalam berbagai upacara tradisional, menandakan bahwa warisan megalitik masih menjadi bagian dari identitas budaya setempat.


Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 1 Tahun 2017 oleh Hasanuddin dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan mengkaji situs megalitik Cilellang di Kabupaten Wajo. Dengan metode survei, pemetaan, serta ekskavasi terbatas, penelitian ini menemukan sejumlah menhir dan dolmen yang diduga berfungsi sebagai penanda kedudukan sosial sekaligus media ritual. 

Hasil penelitian menegaskan bahwa keberadaan situs megalitik berkaitan erat dengan pola hunian masyarakat, sehingga memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sosial sehari-hari.

Sementara itu, Jurnal Semnastek Universitas Muhammadiyah Jakarta Tahun 2020 mempublikasikan kajian Eko Sulistiyono dan tim terkait persebaran potensi cagar budaya megalitik di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pendekatan etnoarkeologi digunakan untuk menghubungkan temuan arkeologi dengan praktik budaya masyarakat saat ini.

 Hasil kajian menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Poso memiliki nilai strategis untuk pengembangan penelitian dan wisata budaya. Namun demikian, rendahnya kesadaran pelestarian serta tekanan aktivitas modern menjadi ancaman serius, sehingga diperlukan kebijakan perlindungan dan program edukasi yang berkelanjutan.


Penelitian lain yang dimuat dalam Jurnal Humaniora Universitas Nusa Cendana Tahun 2021 oleh Angelus Darma membahas situs megalitik di Pulau Flores, khususnya di Desa Bena dan Batu Termanu. Penelitian dilakukan melalui observasi partisipatif dan wawancara dengan tokoh adat. 

Temuan penelitian mengungkap bahwa batu-batu megalitik di Desa Bena berfungsi sebagai simbol leluhur dan masih digunakan dalam ritual Penti, yaitu upacara ungkapan syukur atas hasil panen. Sementara itu, Batu Termanu di wilayah Ende menyimpan kisah panjang mengenai migrasi dan kehidupan masyarakat prasejarah, yang terus diwariskan secara lisan.

Berdasarkan berbagai hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa situs megalitik di Sulawesi dan NTT memiliki makna penting, baik dari sisi arkeologi maupun budaya. Sulawesi menampilkan kompleksitas struktur sosial dan kepercayaan melalui bentuk menhir dan dolmen, sedangkan NTT memperlihatkan kesinambungan tradisi dengan pemanfaatan situs megalitik dalam praktik adat hingga saat ini.

 Kajian ilmiah menegaskan bahwa situs-situs tersebut bukan hanya tinggalan sejarah, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat yang perlu dijaga dan dilestarikan bagi generasi mendatang.

 matacelebes


Posting Komentar

0 Komentar