Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memerintahkan jajarannya memantau kondisi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur karena debit airnya susut. Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda langsung terjun ke lapangan untuk memantau situasi.
“Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau," kata Dody, Jumat (4/9/2026).
Susutnya debit air Sungai Mahakam berpotensi berkurangnya ketersediaan air baku dan aktivitas masyakarat yang bergantung pada transportasi air seperti distribusi kebutuhan pokok.
Kemarau panjang yang terjadi di Pulau Kalimantan terkait erat dengan fenomenan El Nino yang berdampak langsung ke Sungai Mahakam.
Kalimantan Timur secara tahunan memiliki curah hujan sangat tinggi berkisar 3.600–3.700 milimeter.
Namun, memasuki puncak musim kemarau Juli-Agustus 2026 terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan. Pada Juli 2026 misalnya, curah hujan di sana hanya 289 milimeter lalu Agustus 2026 cuma di angka 25 milimeter.
Minimnya curah hujan turut menyebabkan debit Sungai Mahakam menurun, terutama di wilayah hulu. Sementara itu, debit di bagian hilir juga mengalami penurunan, tetapi perubahannya cenderung lebih stabil. Kondisi debit Sungai Mahakam tersebut dipengaruhi oleh efek damping atau peredaman aliran.
Selain itu, aliran dasar (baseflow) dari anak-anak Sungai Mahakam di sejumlah kabupaten turut menjaga kestabilan debit. Pengaruh pasang surut juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan fluktuasi debit Sungai Mahakam di wilayah hilir relatif lebih stabil dibandingkan bagian hulu.
Kepala BWS IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan penurunan muka air Sungai Mahakam berdampak langsung terhadap aktivitas transportasi sungai.
Jalur air tersebut selama ini menjadi sarana untuk mengangkut penumpang, bahan pangan, hingga bahan bakar minyak (BBM).
“Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat,” ujar Andri Rachmanto Wibowo.
Menurut Andri, kondisi tersebut turut menghambat distribusi bahan pangan dan BBM ke Kabupaten Mahakam Ulu. Saat ini, jalur darat menjadi satu-satunya pilihan untuk distribusi dengan waktu perjalanan yang mencapai sekitar 2 x 24 jam.
Keterbatasan jalur distribusi tersebut kemudian berdampak terhadap pasokan BBM dan harga kebutuhan pokok masyarakat. Kondisi ini berpotensi semakin dirasakan apabila muka air Sungai Mahakam terus mengalami penurunan.
Untuk mengantisipasi dampaknya, Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air terus memantau debit dan ketinggian muka air Sungai Mahakam. Pemantauan dilakukan bersama pemerintah daerah untuk mengurangi dampak terbatasnya akses transportasi dan distribusi yang dirasakan masyarakat.
^Debit Sungai Barito susut
Sebelumnya diketahui, selain Sungai Mahakam, debit air Sungai Barito juga susut. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III terjun langsung ke lokasi, Jumat (21/8/2026) guna memastikan debit air sungai saat musim kemarau tahun ini.
BWS Kalimantan III menjelaskan alur utama sungai masih mempunyai aliran air dengan lebar 1000 meter dan dapat dilalui kapal atau perahu. Namun, didapati pula muka dan debit air Sungai Barito mengalami penurunan.
"Karena itu, ketika terjadi kekeringan, pemerintah harus bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat lebih tangguh menghadapi kekeringan," jelas Dody.(*)
0 Komentar