Nasional - Embusan angin pegunungan menerpa hamparan pertanian dan perkebunan di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Di balik hamparan tanaman kopi, alpukat, mawar, hingga berbagai tanaman hortikultura yang tumbuh subur di lereng Gunung Merapi, kawasan ini menyimpan fungsi ekologis yang menentukan perjalanan air yang kelak dikonsumsi masyarakat.
Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, Desa Mriyan merupakan bagian dari Sub-Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Pusur yang berfungsi sebagai kawasan imbuhan atau daerah resapan air tanah (groundwater recharge area).
Di sinilah perjalanan air dimulai. Ketika hujan turun di lereng Merapi, tidak seluruh air mengalir menuju sungai. Sebagiannya justru meresap ke dalam tanah, bergerak perlahan melewati lapisan batuan, lalu tersimpan di dalam akuifer tertekan (confined aquifer).
Proses alami ini berlangsung selama bertahun-tahun sebelum air akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber air baku Pabrik AQUA Klaten.
Lereng Merapi, awal perjalanan air
Ahli Hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Heru Hendrayana menjelaskan bahwa kawasan Mriyan menjadi salah satu daerah yang berperan mengisi akuifer tertekan melalui proses alami. Akuifer tertekan adalah lapisan batuan atau pasir di bawah permukaan tanah yang menyimpan air dan terjepit di antara dua lapisan kedap air, seperti lempung atau batuan padat.
Karena terkurung lapisan tersebut, air di dalamnya berada dalam tekanan alami sehingga dapat naik sendiri atau lebih mudah diambil saat dilakukan pengeboran. Keberadaan lapisan kedap itu juga membuat kualitas air di dalam akuifer tertekan lebih terlindungi dari pencemaran yang berasal dari permukaan tanah.
"Air hujan yang jatuh di kawasan imbuhan akan meresap ke dalam tanah, kemudian bergerak perlahan hingga mengisi akuifer. Proses ini berlangsung secara alami dan membutuhkan waktu yang panjang," ujar Heru.
Ia menambahkan, akuifer tertekan memiliki karakteristik berbeda dengan akuifer bebas yang umum dimanfaatkan masyarakat melalui sumur dangkal. Lapisan air tersebut berada jauh di bawah permukaan tanah dan terlindungi lapisan batuan kedap sehingga kualitasnya relatif lebih stabil.
Karakteristik itulah yang menjadikan akuifer tertekan di kawasan ini sebagai sumber air baku bagi Pabrik AQUA Klaten, yang berlokasi sekitar 25 kilometer dari kawasan imbuhan Desa Mriyan. Heru pun menegaskan bahwa lapisan air yang dimanfaatkan AQUA berbeda dengan lapisan air tanah yang digunakan masyarakat sehari-hari.
"Lapisan air yang diambil berbeda dengan lapisan air yang diambil masyarakat," katanya.
Konservasi menjadi fondasi kualitas air
Kemampuan kawasan imbuhan menghasilkan cadangan air tanah sangat bergantung pada kondisi bentang alam di atasnya.
Ketika tutupan vegetasi berkurang akibat alih fungsi atau perubahan tata guna lahan, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan (surface run off) daripada meresap ke dalam tanah. Akibatnya, cadangan air yang mengisi akuifer terus berkurang, sementara risiko erosi dan longsor meningkat.
Karena itu, menjaga kawasan imbuhan tidak hanya penting bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga menentukan kualitas air yang nantinya dimanfaatkan sebagai sumber air baku.
"Kalau daerah imbuhannya rusak, air yang masuk ke dalam tanah juga akan berkurang. Akibatnya, cadangan air di akuifer ikut menurun. Jadi, yang harus dijaga tidak hanya airnya, tetapi juga kawasan yang menghasilkan air itu," kata Heru.
Lebih lanjut, Heru menuturkan bahwa menjaga kawasan imbuhan tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Fungsi lahan juga harus dipertahankan agar air tetap dapat meresap secara alami melalui berbagai upaya, mulai dari pembangunan embung, pengaturan tata guna lahan, hingga mempertahankan vegetasi yang mendukung proses infiltrasi.
Public Affairs and Sustainability Senior Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan, kawasan Sub-DAS Pusur pernah mengalami perubahan bentang alam akibat alih fungsi lahan untuk pertanian. Kondisi tersebut membuat kemampuan tanah menyerap air berkurang.
"Awalnya ini hutan, terus jadi agrikultur. Karena itu, harus dilakukan konservasi agar air bisa terserap maksimal di dalam tanah," ujar Karyanto.
Menurut dia, ketika vegetasi dengan akar yang kuat berkurang, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan dibandingkan meresap ke dalam tanah. Akibatnya, kawasan menjadi lebih rentan terhadap erosi, sementara pasokan air yang mengisi akuifer ikut menurun.
Berangkat dari kondisi tersebut, AQUA bersama masyarakat mengembangkan berbagai program konservasi berbasis landskap. Upaya tersebut dilakukan melalui penanaman pohon berakar dalam, seperti kopi dan alpukat, pembangunan terasering, penerapan praktik pertanian berkelanjutan, hingga pengembangan kawasan edukasi konservasi atau living lab.
Karyanto menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Daerah Gumuk ini kami dorong menjadi kawasan edukasi atau living lab. Kampus, sekolah, pemerintah, sampai organisasi nonpemerintah bisa belajar konservasi di sini.
Harapannya, konservasi bisa terus berkembang sekaligus menumbuhkan ekonomi masyarakat," katanya.
Menjaga Keberlanjutan Air Tanah Bagi AQUA, menjaga kawasan tangkapan air juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas air sejak dari sumbernya. Chief Operations Officer Danone Vikram Agarwal mengatakan, kondisi ekosistem di sekitar sumber air sangat menentukan proses yang harus dilakukan di fasilitas produksi.
"Semakin baik kualitas air dari sumbernya, semakin sedikit intervensi yang dibutuhkan dalam pengolahan. Karena itu, melindungi kawasan tangkapan air bukan sekadar bagian dari komitmen keberlanjutan, tetapi juga kebutuhan operasional," ujar Vikram.
Menurut Vikram, pendekatan tersebut juga menjadi alasan mengapa upaya konservasi tidak dapat dilakukan sendiri oleh perusahaan. Perlindungan kawasan imbuhan air membutuhkan kolaborasi dengan masyarakat, akademisi, pemerintah, hingga berbagai pemangku kepentingan agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Di fasilitas produksi, air baku diproses hingga siap memasuki lini produksi dan dikemas dalam berbagai format, termasuk produk galon.
Menjaga kualitas hingga siap diminum
Upaya menjaga kualitas air tidak berhenti di kawasan hulu. Setelah tersimpan selama bertahun-tahun di dalam akuifer, air kemudian diambil melalui sumur produksi yang berada di sekitar Pabrik AQUA Klaten untuk menjalani serangkaian proses sebelum akhirnya didistribusikan kepada masyarakat. Di fasilitas produksi, air baku terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kualitas untuk memastikan seluruh parameter memenuhi standar.
Setelah itu, air diproses hingga siap memasuki lini produksi dan dikemas dalam berbagai format, mulai dari botol, galon, hingga kemasan lainnya. Seluruh tahapan tersebut dirancang untuk menjaga keamanan pangan (food safety) sekaligus mempertahankan kualitas air hingga diterima konsumen.
Operational Director Regional 3 AQUA Joshua Prajoga menjelaskan, air dari sumber terlebih dahulu dialirkan menuju reservoir sebelum melalui proses water treatment. Selanjutnya, air diproses melalui tahapan filtrasi dan disinfeksi hingga siap memasuki mesin pengisian (filling machine).
Joshua mengatakan, pengawasan kualitas dilakukan secara berkala terhadap air yang diproduksi melalui berbagai parameter pengujian. "Secara kualitas kami juga terus melakukan pengecekan. Dari berbagai parameter fisika, mineral, kemudian mikrobiologi," ujar Joshua.
Pada lini produksi galon, misalnya, kemasan yang kembali dari konsumen juga terlebih dahulu melalui proses pencucian sebelum diisi ulang. Setelah itu, produk kembali melewati tahap inspeksi sebelum dikemas dan didistribusikan.
Joshua menambahkan, Pabrik AQUA Klaten merupakan salah satu fasilitas produksi terbesar yang dimiliki perusahaan. Secara nasional, AQUA mengoperasikan 20 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Menurut dia, keberadaan pabrik di berbagai daerah tidak hanya bertujuan mendekatkan produk kepada konsumen, tetapi juga memastikan fasilitas produksi tetap berada dekat dengan sumber air yang dikelolanya.(**)
0 Komentar