Gesekan kain sarung malam itu terasa lebih panas dari biasanya, bikin kulit Dg Nonci gatal-gatal bukan karena kurap, tapi akibat setruman daster tipis si Acce yang tadi sore melambai-lambai manja di jemuran sebelah.
Bagai menaruh minyak dekat bara, iman seorang lelaki jantan Makassar emang gampang gosong kalau bertetangga dengan janda kembang yang bodinya legit macam pisang epe setengah matang disiram air gula.
Di bawah remang lampu gang Sudiang yang megap-megap, bayangan Acce selalu sukses bikin “badik pusaka” di dalam sarung Dg Nonci gelisah mau melompat keluar dari sarungnya.
Pas lagi khusyuk menahan gejolak batin yang hampir bikin piston mesinnya jebol, tiba-tiba sebuah lengkingan manja nan erotis menembus dinding triplek rumahnya.
“Kajili-jili! Toloooong… ada yang goyang-goyang kasar sekali di dalam lemari bajuku!” teriak Acce dengan nada meliuk yang bikin bulu-bulu halus di sekujur tubuh Dg Nonci langsung berdiri kompak.
Nggak pakai pasang sendal, Dg Nonci langsung loncat pagar pembatas. Persetan dengan sopan santun, kalau urusan menyelamatkan aset berharga milik janda sebelah, jiwa pahlawan jalanannya langsung menyala merah.
“Tenang, Acce! Biar jin iprit mana pun yang coba-coba ganggu, saya ratakan malam ini!” gertak Dg Nonci sambil pasang dada bidangnya yang cuma ditutupi singlet bolong-bolong.
Dia menerobos masuk ke kamar tidur Acce yang baunya wangi semerbak melati campur minyak kayu putih, kombinasi aroma yang bikin otak cowok normal langsung korslet.
Di sudut ranjang, janda muda itu sudah gemetaran dengan daster merahnya yang agak tersingkap di bagian paha, menunjuk ke arah lacing pakaian dalam yang terbuka setengah.
“Itu… di dalam situ, Nonci! Ada yang menggeliat-geliat sensual sekali di dalam celana dalam merahku. Jin penunggu penjahat kelamin kayaknya itu!” bisik Acce sambil merapatkan tubuhnya yang hangat dan sintal ke pundak Dg Nonci
Kena senggolan maut sekencang itu, Dg Nonci langsung menelan ludah dengan tenggorokan kering kerontang.
Dengan jari-jari yang gemetar karena nafsu yang sudah naik ke ubun-ubun, Dg Nonci mendekati TKP.
Di sela-sela lipatan celana dalam berbahan renda tipis warna merah menyala itu, ada sesuatu yang menonjol dan bergerak-gerak liar.
Kadang menyundul, kadang memutar mencari lubang keluar sampai kain merah itu bergoyang-goyang sensual.
“Kurang ajar, ini jin khodam lale (gatal) rupanya. Berani-beraninya curi start duluan!” batin Dg Nonci dongkol setengah mati.
Sambil merapalkan doa pengusir setan seadanya, Dg Nonci menyambar sapu lidi di balik pintu. Dia pasang kuda-kuda kokoh khas petarung Losari.
“Kau salah tempat cari kehangatan, setan nakal! Rasakan ini!”
Plakkk! Plakkk! Plakkk!
Sapu lidi mendarat bertubi-tubi di atas celana dalam merah itu. Setiap kali lidi menghantam kain tipis tersebut, terdengar suara mengeong pasrah yang tertahan di balik kain, bikin Acce di belakangnya ikut berteriak histeris, “Aduh Nonci.. pelan-pelan! Jangan sampai robek barang mehongku itu!”
Setelah digebuk beberapa kali, gerakan di dalam celana dalam merah itu akhirnya menyerah. Dengan ujung sapu lidi yang gemetaran, Dg Sutte mengangkat pelan-pelan kain merah yang super seksi itu.
Begitu kain terangkat… jeng jeng!
Bukannya setan muka merah bertaring yang keluar, melainkan seekor anak kucing oren tetangga yang mukanya belepotan dan kebingungan.
Ternyata kepalanya tersangkut di lubang paha celana dalam renda merah milik Acce gara-gara si kucing keasyikan mainin tali gantungannya yang dikira mainan tikus-tikus.
Melihat plot twist zonk itu, Acce langsung tertawa renyah sampai pundak dan dadanya naik turun eksotis. Sementara Dg Nonci cuma bisa berdiri bego sambil memegang sapu lidi, meratapi tenaganya yang keluar sia-sia demi bertarung melawan anak kucing oren yang dikira jin penjahat kelamin.
“Ternyata cuma kucing toh, Nonci, Padahal saya sudah tegang setengah mati,” goda Acce sambil mengedipkan matanya yang bikin lutut Dg Nonci langsung lemas seketika.
Meninggalkan anak kucing yang masih sibuk melepas lilitan kain merah di kepalanya, Dg Nonci terpaksa pulang ke rumahnya dengan sarung yang hampir melorot, menahan malu sekaligus menahan sisa-sisa gairah malam Jumat yang tidak tersalurkan gara-gara si oren kurang ajar.(**)
Disclaimer : Seluruh isi tulisan ini adalah karya fiksi belaka. Nama tokoh, latar tempat, maupun peristiwa yang terjadi di dalamnya hanyalah hasil dramatisasi dan imajinasi kreatif penulis untuk kebutuhan hiburan semata. Segala kemiripan nama, karakter, atau lokasi dengan pihak-pihak tertentu di dunia nyata adalah murni kebetulan belaka dan tidak dimaksudkan untuk menyasar atau menyinggung siapa pun.
0 Komentar