Sejak 1992, Hari Air Dunia diperingati setiap tahun dengan tema berbeda. Tahun 2026 mengusung “Water and Gender”, yang menekankan bahwa isu air bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga terkait relasi sosial serta pengalaman perempuan dan laki-laki dalam mengaksesnya.
Beberapa tahun terakhir, perhatian publik dunia tersedot pada kisah sebuah kota yang hampir mematikan keran air bagi warganya.
Cape Town (Afrika selatan) menjadi simbol krisis ketika pemerintah setempat menghitung mundur menuju "Day Zero", hari ketika distribusi air akan dihentikan karena cadangan waduk merosot tajam.
Setelah itu, So Paulo (Brasil) menghadapi tekanan serupa, disusul peringatan keras tentang kondisi air tanah di Kabul (Afghanistan) yang terus menyusut. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa krisis air bukan lagi insiden terpisah, melainkan pola yang berulang di banyak tempat.
Kini, para peneliti air global memperingatkan situasi yang lebih mengkhawatirkan. Dunia disebut mulai memasuki fase kebangkrutan air. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika pemakaian air telah melampaui kemampuan alam untuk mengisi kembali cadangannya. Bukan sekadar kekeringan sementara akibat musim kemarau, melainkan defisit jangka panjang yang terakumulasi dari tahun ke tahun.
Gambaran kebangkrutan itu mudah dipahami melalui analogi keuangan. Ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan dan tabungan terus dikuras, maka keruntuhan hanya soal waktu.
Dalam sistem hidrologi, "tabungan" tersebut adalah air tanah, danau, sungai, gletser, serta lahan basah yang selama ini berfungsi menyimpan dan memurnikan air secara alami. Jika elemen-elemen ini rusak, maka daya tahan sistem ikut melemah.
Lahan basah global mengalami penyusutan signifikan sejak dekade 1970-an. Padahal kawasan ini berperan penting sebagai penampung air hujan, pengendali banjir, dan penyaring polutan alami.
Ketika lahan tersebut diubah menjadi kawasan permukiman, industri, atau pertanian intensif, kapasitas penyimpanan air berkurang drastis. Akibatnya, saat hujan deras air tidak tertahan dengan baik, sementara ketika kemarau datang cadangan cepat menghilang.
Eksploitasi air tanah juga mempercepat laju defisit. Banyak kota memilih memperdalam sumur dan meningkatkan kapasitas pompa untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan industri.
Pada awalnya, kebijakan ini tampak praktis. Namun jika pengambilan berlangsung lebih cepat dibanding proses pengisian ulang alami, muka air tanah akan turun. Konsekuensinya bisa berupa amblesan tanah dan masuknya air laut ke akuifer di kawasan pesisir.
Persoalan air modern tidak hanya menyangkut volume, tetapi juga kualitas. Limbah domestik, residu pupuk, dan pencemaran industri memperburuk mutu sumber air.
Di wilayah pantai, intrusi air asin meningkatkan kadar garam sehingga air sulit digunakan untuk konsumsi maupun pertanian. Dengan kata lain, ketersediaan air secara fisik belum tentu berarti ketersediaan yang aman dan layak.
Perubahan iklim memperbesar tantangan tersebut. Pola curah hujan makin sulit diprediksi. Di beberapa daerah, hujan turun sangat intens dalam waktu singkat, lalu berhenti lama. Suhu yang meningkat mempercepat penguapan dan meningkatkan kebutuhan irigasi.
Gletser yang selama ini menjadi cadangan air tawar alami terus menyusut. Sementara itu, urbanisasi, ekspansi pertanian, industrialisasi, dan kebutuhan energi mendorong konsumsi air ke tingkat yang lebih tinggi.
Konflik alokasi air di Sungai Colorado di Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana ketidakseimbangan pasokan dan permintaan dapat memicu ketegangan politik. Waduk-waduk besar menyusut ke titik terendah dalam sejarahnya.
Di Teheran, kekeringan berulang membuat cadangan air menurun drastis dan berdampak pada stabilitas sosial. Secara global, miliaran orang tinggal di kawasan dengan risiko tekanan air yang tinggi.
Indonesia juga menghadapi gejala serupa. Di Gunungkidul, Yogyakarta, warga kerap mengantre bantuan air bersih saat kemarau panjang. Sawah di Bekasi dan Karawang pernah retak karena irigasi berkurang.
Di Lombok dan sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, masyarakat harus menempuh jarak jauh demi memperoleh air bersih ketika musim kering ekstrem.
Bahkan di Jakarta, eksploitasi air tanah berlebihan memicu penurunan muka tanah dan mempercepat intrusi air laut, membuat sebagian sumur menjadi payau.
Respons terhadap krisis sering kali bersifat jangka pendek. Pemerintah menambah sumur bor, mengirim truk tangki, atau merekayasa aliran sungai. Langkah-langkah ini memang membantu meredakan situasi darurat, tetapi jarang menyentuh penyebab mendasar. Tanpa pembenahan tata kelola dan pemulihan ekosistem, defisit air akan terus menumpuk.
Akumulasi kebijakan yang berorientasi tambal sulam membuat sistem air semakin rapuh. Danau menyusut, sungai berubah menjadi musiman, intrusi air asin meluas, dan tanah perlahan turun akibat kosongnya akuifer. Setiap keputusan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berarti menambah beban di masa depan.
Pada akhirnya, kebangkrutan air adalah persoalan paradigma dan tata kelola. Selama air diperlakukan sebagai sumber daya tanpa batas, eksploitasi akan terus terjadi.
Padahal siklus air membutuhkan ruang dan waktu untuk pulih. Restorasi daerah tangkapan, perlindungan hutan, pengendalian pencemaran, serta efisiensi penggunaan harus menjadi prioritas bersama.
Aspek keadilan sosial tidak bisa dikesampingkan. Kelompok mampu dapat mencari alternatif ketika pasokan publik terganggu, sementara masyarakat rentan sangat bergantung pada jaringan umum. Ketika krisis datang, kesenjangan akses semakin nyata.
Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Air Sedunia tahun 2026 yang bertema Air dan Kesetaraan Gender, penting menegaskan bahwa akses air bersih harus inklusif.
Perempuan dan kelompok rentan perlu dilibatkan dalam pengelolaan sumber daya air agar tercipta keadilan, keberlanjutan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh dan berkeadilan.
Air menopang sektor pertanian, industri, dan energi. Gangguan pasokan berdampak pada harga pangan, produksi, dan stabilitas ekonomi. Karena itu, persoalan air melampaui isu lingkungan; ia menyentuh keamanan dan kesejahteraan masyarakat luas.
Kisah-kisah yang viral dari berbagai daerah seharusnya menjadi peringatan dini. Kebangkrutan air bukan sekadar istilah akademis, melainkan gambaran nyata dari pola pembangunan yang mengabaikan batas ekologis. Jika tidak ada perubahan mendasar dalam cara kita mengelola sumber daya ini, kerusakan akan semakin sulit dipulihkan.
Air adalah fondasi kehidupan. Tanpa pengelolaan yang bijak dan berkelanjutan, risiko kehilangan sumber daya paling mendasar ini akan semakin besar. Dunia telah menerima sinyal peringatan yang jelas. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah arah sebelum defisit itu benar-benar tak terkendali.
matacelebes
0 Komentar