Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Inspirasi Secangkir Kopi Pemicu Semangat Mengungkap Fakta.


           Ilustrasi

matacelebes - Aku menuntaskan tugas harianku yang cukup menguras energi dengan singgah di Warkop Daeng, tempat yang tak sekedar ruang rehat, tetapi juga denyut lain dari kerja-kerja jurnalistik yang penuh tantangan.

Ditengah hiruk pikuknya dinamika kehidupan,sejak pagi hingga sore hari energi terkuras menyimak pemaparan,menganalisa statemen, menulis fakta serta menguji susunan kalimat hingga tersusun paragraf yang tertata hingga layak  konsumsi.

Senja hari mulai menampakkan kehadirannya seiring dengan perlahan menghantar matahari terbenam,Warkop Daeng menjadi persinggahan yang di warnai riuh rendah  para pengunjung, tepat di bangku yang paling pojok kopi hitam  yang selama ini menemaniku, hitam pekat, dengan rasa pahit sepahit kegetiran hidupku yang terus mempertahankan idealisme tanpa polesan kepentingan.

Percakapan ringan kerap bersinggungan dengan diskusi serius soal warta yang hangat di bicarakan. Asap rokok dan  secangkir kopi menjadi saksi bagaimana fakta-fakta lapangan diendapkan, di tata ulang, lalu dirangkai menjadi narasi yang di paksa diterima  rasio.

Secangkir kopi hitam itu bukan sekadar minuman pelepas lelah. Ia menjadi ruang untuk menata kembali logika, menguji nurani, sekaligus mengingatkan tugas jurnalis bukan hanya mencatat, melainkan memastikan kepentingan publik tetap menjadi pusat perhatian dari  sudut pandang yang lebih transparan.

Figur seorang jurnalis yang juga berperan selaku sosial kontrol  bisa lahir dari ketekunan, konsistensi, dan keberanian untuk tetap kritis meski dalam kesunyian. Seperti kopi hitam yang tak menarik perhatian  tetapi meninggalkan kesan kuat bagi yang menyeruputnya.

Di tempat ini, saya kerap menyadari kerja jurnalistik adalah sebuah keniscayaan,dengan  hari-hari yang penuh tekanan, terkadang ku berhenti sejenak, menarik napas, dan menguatkan niat. Segelas kopi  menjadi penanda idealisme masih terjaga, meski realitas lapangan tak selalu ramah.

Aku menerawang di sela sela fatamorgana, ruang liputan dan meja warung kopi, wartawan belajar satu hal penting, yaitu menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan, sekaligus tetap dekat dengan nurani,dari situlah kumenemukan jalannya agar mata logika tetap berkarya bukan hanya menjadi penonton.(**)

Makassar, 08 Februari 2026


Posting Komentar

0 Komentar